English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Kumpulan Hadits
News Update :
Berita Terkini
Loading...
More on this category »
More on this category »
More on this category »

Hadits Tentang Sungguh-sungguh dalam Beramal

Penulis : azid zainuri on Thursday, April 25, 2013 | 4:24 PM

Thursday, April 25, 2013


BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERAMAL

قال اللّه تعالى : فاستبقواالخيرات

Allah Ta'ala berfirman : "Maka berlomba-lobalah kamu (dalam berbuat) kebaikan."
(Al-Baqarah : 148, Al-Maidah : 51)

وقال اللّه تعالى : وسارعواإلى مغفرةمن ربّكم وجنّةعرضهاالسّموات والأرض أعدّت للمتّقين
Allah Ta'ala berfirman : "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
komentar | | Read More...

Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Nabi Saw

Penulis : azid zainuri on Sunday, April 14, 2013 | 9:15 PM

Sunday, April 14, 2013


penulisan hadits
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti al-Quran. Para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Alquran di atas alat-alat yang mungin dapat dipergunakannya. Tetapi, tidak demikian halnya terhadap hadits. Kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan bimbingan Nabi SAW dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam al-Quran.

Larangan Menulis Hadits
Para sahabat menyampaikan sesuatu dari hadits Nabi SAW melalui lisan atau pendengaran saja. Pendirian ini mempunyai pegangan yang kuat, yakni sabda Nabi SAW “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Quran. Barang siapa menulis dariku selain al-Quran hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim). Dalam riwayat lain Sa’id al-Khudri mengatakan: “Kami pernah meminta izin kepada Nabi SAW untuk menulis tetapi beliau tidak mengizinkannya.” (al-Muhadits al-Fashil: 4/5)
Hadits di atas, selain menganjurkan agar meriwayatkan hadits dengan lisan, juga sebagai larangan keras kepada orang yang membuat riwayat palsu. Larangan penulisan hadits tersebut ialah untuk menghindarkan adanya kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu memasukkan hadits ke dalam lembaran-lembaran tulisan al-Quran, karena dianggapnya segala yang dikatakan Rasulullah SAW adalah wahyu semuanya. Lebih-lebih bagi generasi yang tidak menyaksikan zaman dimana wahyu itu diturunkan, tidak mustahil adanya dugaan bahwa seluruh yang tertulis adalah wahyu semuanya, hingga bercampur aduk antara al-Quran dengan hadits.

Perintah Menulis Al-Hadits
Di samping melarang menulis hadits, Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadits. Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Rasulullah SAW beliau berdiri berpidato di hadapan para manusia. Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang laki-laki yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Rasulullah saw., ujarnya, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian unutknya!”
Dan tidak ada satu pun riwayat tentang perintah menulis hadits yang lebih sah, selain hadits ini. Sebab, Rasulullah SAW dengan tegas memerintahkannya. Sejarah telah mencatat adanya beberapa naskah tulisan hadits yang bersifat pribadi dari beberapa sahabat dan tabi’in. Para sahabat dan tabi’in yang mempunyai naskah hadits antara lain sebagai berikut.

Abdullah bin Amr bin Ash ra (65 H)
Abdullah bin Amr bin Ash ra adalah salah seorang sahabat yang selalu menulis apa yang pernah didengarnya dari Nabi Muhammad SAW. Tindakan ini pernah didengar oleh orang-orang Quraisy, mereka mengatakan, “Apa engkau menulis semua yang telah kau dengar dari Nabi? Sedang beliau itu hanya manusia, kadang-kadang berbicara dalam suasana suka dan kadang-kadang berbicara dalan suasana duka?” Atas teguran tersebut, ia segera menanyakan tentang tindakannya kepada Rasulullah SAW. Maka, jawab Rasulullah SAW, “Tulislah! Demi Zat yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar daripadanya, selain hak.” (HR Abu Dawud) dan Abu Hurairah pernah mengatakan: “Tidak ada satu pun sahabat Nabi yang haditsnya melebihi aku selain Abdullah bin Amru, ia menulisnya sedangkan aku tidak menulisnya.” (Fathul Baari: 1/217)
Rasulullah SAW mengizinkan Abdllah bin Amr bin Ash untuk menulis apa-apa yang didengarnya dari beliau karena ia adalah salah seorang penulis yang baik. Naskah ini disebut dengan Ash-Shahifah ash-Shadiqah, karena ditulisnya secara langsung dari Rasulullah SAW.
Naskah hadits Ash-Shadiqah berisikan hadits sebanyak 1000 hadits, dan dihafal serta dipelihara oleh keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadits-hadits tersebut sebanyak 500 hadits. Bila naskah Ash-Shadiqah ini tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya, dapat kita temukan secara kutipan pada kitab Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmizi, dan Sunan Ibnu Majah.

 Jabir bin Abdullah al-Anshari ra (78 H)
Naskah haditsnya disebut Shahifah Jabir. Qatadah bin Da’amah as-Sudusy memuji naskah Jabir ini dengan katanya, “Sungguh, shahifah ini lebih kuhafal daripada surat Al-Baqarah.”

Human bin Munabbih (131 H)
Ia adalah seorang tabi’in alim yang berguru kepada sahabat Abu Hurairah ra dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Hadits-hadits tersebut kemudian ia kumpulkan dalam satu naskah yang dinamai Ash-Shahifah ash-Shahihah. Naskah itu berisikan hadits sebanyak 138 hadits.
Imam Ahmad di dalam musnadnya menukil hadits-hadits Humam bin Munabbih keseluruhannya. Dan Imam Bukhari banyak sekali menukil hadits-hadits tersebut ke dalam kitab sahihnya, terdapat dalam beberapa bab.
Ketiga buah naskah hadits tersebut di atas adalah di antara sekian banyak tulisan hadits yang ditulis secara pribadi oleh para sahabat dan tabi’i yang muncul pada abad pertama.
Nas-nas yang melarang menulis hadits di satu pihak dan yang mengizinkan di pihak lain bukanlah nas-nas yang saling bertentangan satu sama lain, akan tetapi nas-nas itu dapat dikompromikan sebagai berikut.
Bahwa larangan menulis hadits itu adalah terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadits itu tidak bercampur dengan al-Quran. Tetapi, setelah jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal al-Quran, maka hukum melarang menulisnya telah dihapus dengan perintah yang membolehkannya. Dengan demikian, hukum menulisnya adalah boleh.
Bahwa larangan hadits itu adalah bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang mempunyai keahlian tulis-menulis, hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya dan tidak dikhawatirkan akan salah, seperti Abdullah bin Amr bin Ash.
Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada orang yang lebih kuat menghafalnya daripada menulisnya, sedang perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya, seperti Abu Syah.
Penjelasan di atas sekaligus sebagai bantahan kepada pengusung orientalis yang memiliki anggapan bahwa hadits baru ditulis pada abad kedua atau hadits tidak pernah ditulis pada masa  Nabi SAW.
komentar | | Read More...

Download Kitab Ihya Ulumuddin

Penulis : azid zainuri on Friday, April 12, 2013 | 3:24 AM

Friday, April 12, 2013

Kitab Ihya Ulumuddin

Kitab Ihya Ulumuddin adalah karya seorang ulama besar, Hujjatul Islam, Al Imam Abu Hamid Ghozali atau Imam Ghozali adalah kitab besar yang sangat berpengaruh di kalangan umat Islam. Walaupun umur kitab ini sudah ratusan tahun, namun hingga kini, kitab ini tetap menjadi rujukan utama bagi para penempuh jalan sufi.
Kitab ini berisi ajaran tentang Adab, ibadah, tauhid, akidah dan tasawuf yang sangat mendalam. Kitab ini merupakan hasil perenungan yang mendalam dari Imam Ghozali tentang berbagai hal, khususnya tentang pensucian hati.
Seorang ulama besar lainnya al-Imam an-Nawawi pernah berkata: “Jika semua kitab Islam hilang, naudzubillah, dan yang tersisa hanya kitab Ihya’ maka ia mencukupi semua kitab yang hilang itu.”


Download Kitab PDF
Mediafire

Download untuk HP format JAR
4Shared 

Download Terjemahan Jilid I
4Shared

تحميل كتاب احياء علوم الدين
Download Per Bab

ربع العبادات
ربع العادات
ربع المهلكات
ربع المنجيات
komentar | | Read More...

Buku Arab Aminullah

Penulis : azid zainuri on Monday, April 8, 2013 | 11:56 AM

Monday, April 8, 2013

Selayang Pandang Buku Bahasa Arab 

 (untuk download ebook klik disini)

Tata bahasa, di dalam bahasa Arab lazim disebut dengan “qawa’id”, adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang memiliki peranan sangat penting di antara ilmu-ilmu bahasa yang lain. Dengan tata bahasa memungkinkan seseorang dapat mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam berbahasa, sehingga ia dapat berbahasa dengan baik dan benar.
Tata bahasa dapat dibagi menjadi tiga cabang ilmu yang lebih kecil yaitu :
1. Fonologi ( tata bunyi ) di dalam bahasa Arab disebut dengan “ilmu aswat”.
2. Morfologi ( tata kata ) di dalam bahasa Arab disebut dengan “ilmu sorof”.
3. Sintaksis ( tata kalimat ) di dalam bahasa Arab disebut dengan “ilmu nahwu”.
Ketika cabang ilmu tersebut memiliki peranan sama-sama penting di dalam rangka penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Arab.
Bahasa Arab mempunyai keunikan dibandingkan dengan bahasa lain, satu di antaranya adalah bahwa bahasa Arab memiliki tanda kasus , yaitu adanya perubahan harkat (baris) pada akhir suatu kata , adakalanya bertanda kasus raf’un (nominatif), nasbun (akkusatif), jarrun (genetif), dan sukun (jusif). Ma’mul dalam kalimat tanazu’ adalah sesuatu yang mempunyai kasus yang berubah-rubah pada akhir kata dengan bentuk rafa’, nasab , jazam ataupun kasrah karena bekas amil yang ada di dalamnya .
Ma’mul sebagai kalimat yang dipengaruhi ‘amil dapat dibagi dua yaitu ma’mul bi l-asalati dan ma’mul bi t-tabi’iyyati. Dari kedua makmul tersebut masing-masing menjelaskan jabatan kalimat yang termasuk di dalamnya.
Adapun ma’mul tanazu’ fi l-‘amal dapat dilihat dari kedudukannya dalam jumlah . Pada dasarnya tanazu’ menjabat pada tiga tempat, yaitu :
- Ma’mul sebagai fa’il
- Ma’mul sebagai maf’ul bih, dan
- Ma’mul sebagai jarr majrur.
Maka ma’mul dalam jumlah ini adalah kalimat isim . Perubahan yang terjadi pada isim adalah rafa’ ke nasab, dan ke jarr.
komentar | | Read More...

Tokoh Sufisme Abu Yazid Al-Bustami

Penulis : azid zainuri on Thursday, April 4, 2013 | 12:16 AM

Thursday, April 4, 2013

A.    Riwayat Hidup Abu Yazid Al-Bustami
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan Al-Bustami. Ia lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 874 M/260 H. Dia menghembuskan nafas yang terakhir di Bustam, kota kelahirannya pada tahun 947 M.[1] Dalam fersi lain disebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 805 M dan wafat pada tahun 875 M.[2] Nama kecilnya adalah Taifur. Kakeknya bernama Sursuryan, seorang penganut agama Zoroaster yang kemudian masuk islam.
komentar | | Read More...

Kisah Abu Yazid Al-Bustami dengan Paderi

Abu Yazid Al Bustami seorang ahli Sufi yang dikejutkan oleh mimpinya supaya pergi ke gereja Samaan. Tiga kali mimpinya itu berulang. Lalu ia bersiap dengan pakaian dan cara yang diberitahu dalam mimpinya. Ia masuk ke gereja Samaan tanpa diketahui oleh Paderi-paderi yang hadir. Dia bersama-sama paderi lain menanti kedatangan ketua Paderi. Setelah ketua Paderi datang, ketua Paderi itu tidak dapat berucap. Dia tahu ada orang lain, orang Islam di dalam gereja itu. Katanya, ” ada orang yang percaya kepada Syariat Muhammad di dalam gereja ini.”
Semua paderi menjadi gempar dan mereka menghendaki orang itu di bunuh. Namun ketua paderi mencegahnya, sebaliknya ketua paderi meminta orang itu bangun supaya mereka dapat mengenalinya. Abu Yazid Al-Bustami pun bangun, tanpa rasa takut.
komentar | | Read More...

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

kunjungi ponpes karangasem paciran
Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan adalah pondok dengan keunggulan tahfidul quran dan ......

Klik disni Untuk lihat Profil MAM 1 Paciran
MA Muhammadiyah 1 Paciran merupakan pendidikan Agama Islam dengan status Terakreditasi A yang menggunakan kurikulum KTSP. Dan mencetak lulusan MA Muhammadiyah 1 Paciran mempunyai kemampuan ganda yaitu: pengetahuan umum yang setara dengan lulusan SLTA dengan pengetahuan Agama yang tidak perlu diragukan lagi....

hadits and Religion Of Islamic">Share in the hadits and Religion Of Islamic
berbagai hadits dan seputar dunia ilmu agama islam ada disini

Daftar Isi

My Blog List

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger