English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

alt/text gambar

News Update :
Home » , » Strategi Pendekatan Pembelajaran dalam Al-Quran

Strategi Pendekatan Pembelajaran dalam Al-Quran

Penulis : azid zainuri on Wednesday, July 3, 2013 | 8:38 PM


A.    Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan adalah suatu proses untuk mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan, menseleksi problema-problema, menemukan persyaratan-persyaratan untuk memecahkan problema-problema, memilih alternatif-alternatif pemecahan, mendapatkan metode-metode dan alat-alat serta mempersamakannya, hasil-hasilnya dievaluasi, serta melakukan revisi yang diperlukan terhadap sebagian atau seluruh sistem yang telah diciptakan sehingga kebutuhan-kebutuhan dapat dipenuhi dengan sebaik mungkin sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dibutuhkan lagi.[1]

      Pendekatan juga dapat diartikan sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk mendekati sesuatu. Kemudian pendekatan pembelajaran dapat diartikan dengan model pembelajaran. Sedangkan pembelajaran itu sendiri adalah  usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan tujuan mengaktifkan factor intern dan factor ekstern dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran juga mengandung arti, bagaimana seorang guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik tetapi disamping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik dapat mempelajarinya.
Dari kedua pengertian dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran adalah merupakan cara kerja yang mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kemudian pengertian lain dari pendekatan pembelajaran adalah  cara mengelola kegiatan belajar dan prilaku siswa agar ia aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal. Pendekatan pembelajaran juga merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai  tujuan intruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu.[2]
Dengan adanya sebuah pendekatan dalam pembelajaran, memberikan sebuah solusi pada masalah yang sedang dihadapi, sehingga menjadikan efektif suatu pembelajaran. Proses pemberian pelajaran dapat berjalan dengan lancer, peserta didik dapat menerimadan mendapat ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan atau sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia hampir-hampir tanpa batas, oleh karena Allah menghendaki hamba-Nya agar menyelidiki dan menganalisis dengan akal pikirannya terhadap gejala ciptaan-Nya di ala mini, bukan menyelidiki ataumenganalisis tentang zat Allah sendiri.
Walaupun ilmu pengetahuan Allahyang adadi ala mini sangat luas, akan tetapi tidak akan manusia menyerap semua lmu itu sesuai dalam surat al-kahfi : 109. Dengan simbisiolisme air laut yang dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu pengetahuan Tuhan yang tidak mencukupi meskipun ditambah lagi dengan volume air laut yang sama.
Firman Allah dalam surat Al-kahfi :109:
قل لو كان البحرمدادا لكلمات ربّى لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربّى ولو جعنا بمثله مدادا     (الكهف : 109)
Artinya : katakanlah Muhammad , seandainya lautan menjadi tintauntuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al-kahfi: 109)
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya dapat menginspirasi dan menguatkan metode pembelajaran dengan cakupan teoritis. Pendekatan disini dapat dipusatkan pada dua jenis pendekatan, yaitu:
1.      Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (Student centered approach).
2.      Pendekatan pembelajaran yang beroreintasi atau berpusat pada guru (Teacher centered approach).[3]

B.     Macam-Macam Pendekatan Pembelajaran
1.      Pendekatan filosofis
Nilai-nilai ajaran islam yang hakiki adalah yang bersumber dari kitab suci Al-qur’an dan dioperasionalkan oleh nabi Muhammad SAW. Ilmu pendidikan islam yang berdasarkan pendekatan filosofis dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran islam menurut filosofis yang bersuberkan pada Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW.
Pendekatan filosofis adalah suatu pendekatan untuk menela’ah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat.[4] Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan saja, yang hanya terbatas pada pengalaman.
Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model:
a.       model filsafat spekulatif.
Adalah  cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di alam ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman.
b.      Model filsafat prespektif.
Adalah model filsafat yang berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran manusia.
c.       Model filsafat analitik.
Adalah model filsafat yang memusatkan pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir. [5]
      Dari kajian tentang filsafat pendidikan lahirlah beberapa teoripendidikan, diantaranya adalah:
a.       Esensialisme adalah menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Contohnya: pelajaran agama, Matematika, sains, dll.
b.      Progresivisme adalah menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif
c.       Perenialisme adalah lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari.
d.      Rekontruktivisme adalah merupakan kelanjutan dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
e.       Eksistensialisme adalah menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan arti hidup. Untuk memahami kehidupan seseorang harus memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?[6]
Dari pendekatan filosofis terdapat proses yang dapat dideskripsikan dari segi materi, pendidik dan anak didik. Yang pertama adalah content (materi), materi yang diberikan kepada peserta didik harus difokuskan pada permasalahan sosio kultural masa kini untuk diproyeksikan ke masa depan, dengan kemampuan anak didik mengungkapkan tujuan dan nilai-nilai. Jadi, materi kurikulum mengandung tantangan untuk berfikir kritis tanpa menghilangkan kesadarannya sebagai makhluk tuhan. Materi agama dijadikan sumber pendorong berfikir kritis ilmiah menuju kepada engembangan pribadi yang harmonis antara tuntunan tuhan dan masyarakatnya.
Kedua adalah pendidik, pendidik bertanggung jawab terhadap pencipitaan situasi komunitas yang dialogis dan terpercaya. Endidik menyadari bahwa pengetahuan dan pengalamannya lebih dewasa, luas dan bersama dengan anak didikdalam situasi yang sama. Pada situasi tertentu, pendidi bisa menjadi murid atau sebaliknya. peserta didik bisa menjadi sumber pengetahuan oleh karena itu peserta didik tidak dianggap pasif, melainkan suatu subjek yang saling mempengaruhi. Guru tidakselalu harus digugu, melainkan guru adalah sebagai partner dalam proses belajar mengajar.
Ketiga adalah anak didik, dalam proses belajar mengajar melakukan hubungan dialogis dengan yang lain, dia belajar menghayati persepsi terhadap realitas kehidupan dan memperhatikan persepsi orang lain, kemudian merevisi sikap pandangannya sendiri dari hasil belajarnya.[7]
Jadi corak belajar seperti ini bersifat inovatif bukan konservatif, maka tak salah Ali bin abi tholib RA menegaskan:
علّموا اولادكم غير ما علّمتم فإنّهم خلقوا لزمن غير زمانكم
Didilah anak-anak kalian tidak seperti yang dididikkan kepadamu, oleh karena mereka itu diciptakan untuk generasi zaman yang berbeda dengan generasi zaman kalian.
2.      Pendekatan Sistem
Daya kreatifitas para ilmuan muslim pada prinsipnya bersumber dari l-qur’an yangmemberikan petunjuk tentang sistem gerakan benda-benda samawi dan kehidupan makhluk-makhluk termaksud dalam diri manusia itu sendiri secara biologis maupun psikologis yang berjalan menurut kehendak Allah SWT.
Pendidikan islam yang ruang lingkupnya sama sebangun dengan kehidupan manusia dalam seluruh bidang-bidangnya, secara sistemik adalah proses mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan menuju titik optimal kemampuan manusia yang berlandaskan pada nilai-nilai islami. Dengan mencontoh sistem mekanisme bekerjanya semesta alam dan tubuh manusia itu sendiri. Para ilmuan, khususna di bidang pendidikan, dapat menciptakan model-model kehidupan sosial, penciptan teknologi mesin-mesin atau benda-benda.
Watak ilmu pendidikan adalah sistematis dan konsisten, untuk itu maka pendidikan islam memerlukan pemikiran yang sistematik dan mengarahkan prosesnya dalam sistem-sistem yang aspiratif terhadap kebutuhan umatnya.
Ayat-ayat yang menunjukkan sistem gerakan benda-benda samawi di luar angkasa diantaranya adalah:
والشمس تجرى لمستقرّ لها ذلك تقدير العزيز العليم. والقمر قدّرناه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لا الشمس ينبغى لها أن تدرك القمر ولا الّيل سابق النّهار وكلّ فى فلك يسبحون (يس 38-40)
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui). Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai di manzilah yang terakhir) kembalilah dia kebentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang.dan masing-masing beredar pada garis peredarannya. (yasiin : 38-40)
Kemudian berkaitan dengan sistem kehidupan sosial manusia dengan Allah SWT, sesama manusia serasi dan selaras. Bila sistem itu rusak, maka akan menjadikan kerusakan. Firman Allah :
ضربت عليهم الذّلّة اين ما ثقفوا إلاّ بحبل من الله وحبل من الناس وباء بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة. (ال عمران : 112)
Mereka diliputi kehinaan dimana-mana mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali hubungan dengan Allah dan tali hubungan dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi oleh kerendahan. (Al-imran : 112)
Kemudian yang berkaitan dengan sistem pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak dari tahap awal kejadiannya, sebagaimana firman Allah :
ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين. ثمّ جعلناه نطفة فى قرار مكين. ثمّ خلقنا النّطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثمّ انشأناه خلقا اخر فتبارك الله احسن الخالقين. (المؤمنون : 12-14)
Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal dari tanah), kemudian kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segupal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk ( yang berbentuk) lain. Maka maha sucilah Allah pecinta yang paling baik. (Al-mkminun : 12-14) 
Pendidikan islam memiliki ciri-ciri yang bersifat goal-oriented yang dilaksanakan berdasarkan pendidikan sistem itu dapat dikembangkan menjadi model sebagai berikut :
a.       Secara sistemik
Manusia didik dipandang sebagai makhluk yang integralistik, yang terbentuk dari unsur rohaniah dan jasmaniah yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya saling mempengaruhi untuk saling mendukung tercapainyasuatu tujuan.
b.      Secara pedagogis
Pendidikan islam diletakkan pada strategi pengembangan seluruh kemampuan dasar secara integralistik, menuj ke arah pembentukan pribadi muslimyang serbaguna dalam segi rohani maupun jasmani untuk mengamalkan ajaran islam yang berhubungan dengan kehidupan dunia.
c.       Institusionalisasi
Pendidikan islam diwujudkan dengan struktur yang berjenjang sejalan dengan tingkat perkembangan jiwa manusia didik, menuju ke arah optimalisasi kemampuan belajarnya yang semakin mendalam dan meluas. Institusi kependidikan islam selain bertugas sebagai wadah juga berfungsi mengarahkan proses kependidikan sesuai program-program yang telah ditentukan.
d.      Secara kurikuler
Pendidikan islam mengarahkan seluruh input instrumental (guru, metode, kurikulum dan fasilitas) dan input inveronmental (tradisi kebudayaan, lingkungan masyarakat, lingkungan alam)menjadi suatu program yang dicita-citakan. Proses elaksanaan kurikuler itu harus berdasarkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan secara tahap demi tahap, sesuai dengan kemampuan peserta didik.[8]
Allah tidak akan memberikan suatu tugas yang diluar kemampuan manusia, sebagaimana dalam surat Al-baqoroh : 286
لا يكلّف الله نفسا إلاّ وسعها لها ما كسبت وعليها ماكتسبت (البقرة : 286)
Tidaklah Allah akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, pahala baginya untuk kebajikan yang telah ia kerjakan, dan siksa bagi kejahatan yang ia kerjakan dan siksa bagi kejahatan yang ia lakukan. (Al-baqoroh : 286)
Pada pendekatan sistem ini dikembangkan kedalam managemen pendidikan dengan berbagai model, diantaranya:
a.       Model sistem intruksional
Adalah cara berfikir yang didasarkan atas pendekatan baru tentang sistem belajar atau pengaturan organisasi tentang proses belajar yang mementingkan alat perangkat keras.
Adapun ciri-ciri dari pola pikir sistem intruksional adalah mendefinisikan, mengembangkan dan melakukan evaluasi.
b.      Model penyelenggaraan pendidikan menurut sistem manajemen program.
Apabila proses pendidikan dari segi managemen maka harus direncanakan sesuai dengan sasaran-sasaran atau tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan tepat.
c.       Model prosedur pengembangan sistem intruksional (PPSI)
PPSI adalah sistem intruksional yang berorientasi pada tujuan pendidikan dan pengajaran dan mengutamakan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaannya.
Pelaksanaannya melalui 5 tahap atau langkah sebagai berikut:
1.      Menentukan tujuan-tujuan intruksional terlebih dahulu.
2.      Menetapkan sarana evaluasi.
3.      Menentukan kegiatan-kegiatan belajar dan bahan-bahan pelajaran. (bidang studi)
4.      Menetapkan rencana atau program kegiatan.
5.      Melaksanakan program tersebut didahului dengan pretest, pemberian materi, evaluasi dan diakhiri dengan post test.[9]
3.      Pendekatan Paedagogis dan Psikologis
Paedagogi berasal dari bahasa Yunani “paedagogia“ yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedang paedagogos ialah seorang pelayan pada jaman yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos”yang artinya “memimpin atau membimbing”. Dari kata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dan dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Dalam pengertian paedagogi seperti tersebut di atas, timbul pandangan yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan.[10]
Pendekatan ini menuntut pada pendidik bahwa manusia didik adalah makhluk tuhan yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan rohaniah dan jasmaniah yang memerlukan bimbingan dan pengarahan melalui proses kependidikan.
Membimbing dan mengarahkan perkembangan jiwa dan pertumbuhan jasmani dalam pengertian pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pengertian psikologis. Karena suatu pekerjaan mendidik atau mengajar merupakan  hal yang berhubungan dengan manusia yang sedang berkembang dan tumbuh harus didasarkan pada tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan psikologis yang mana psikologis telah banyak melakukan studi khusus dari aspek aspek kemampuan belajar manusia.
Allah telah menunjukkan berbagai gejala hambatan psikologis yang terjadi padadiri manusia, sebagaimana firman Allah pada surat al-baqoroh ayat 10.
Didalam hati mereka (orang kafir) terdapat penyakit, maka Allah menambah (parah) penyakit mereka dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Nabi Muhammad sering menunjukkan peristiwa paedagogis, yakni beberapa sikap mental orang kafir, munafik, dan musyrik. Diberitahukan dalam sabdanya :
ايات المنافق ثلاث : إذا حدث كذب وإذا وعد اخلف واذاائتمن خان (رواه البخارى)
Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu ketika ia berbicara, ia berdusta. Ketika ia berjanji, ia mengingkarinya, dan ketika ia diberi amanat, ia menghianatinya. (H.R Bukhory)
Ilmu pendidikan islam dilihat dari segi psikologis dan paedagogis ada lima faktor, diantaranya:
a.       Pendidik
Sebagai pengendali dan pembimbing arah perkembangan dan pertumbuhan manusia didik, ia adalah manusia hamba Allah yang bercita-cita islami yang telah matang secara rohani maupun jasmani. Pendidik tidak hanya menstransferkan ilmu-ilmu pengetahuan saja melaikan nilai-nilai islam juga. Maka dari itu, pendidik harus pandai memahami segala macam metode yang berdaya guna dalam penerapan proses pendidikan yang dibutuhkan sesuai dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pendidik adalah bukan hanya pemberi ilmu melainkan pembawa nilai-nilai islam yang sudah diajarkan nabi Muhammad SAW. Yang mengajarkan do’a:
ربّى زدنى علما (طه : 114)
Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (thaha: 114)
 
b.      Manusia didik
Manusia didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan atau pertumbuhan menurut fitrah masing-masing, yang sangat memperlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya.
c.       Alat-alat pendidikan
Alat-alat pendidikan disini bisa menggunakan fisik maupun nonfisik, yang dalam prosespembelajaran digunakan secara bervariasi. Tujuan dari penggunaan alat adalah untuk mencapai hasil yang optimal dalam proses kependidikan.
d.      Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar dapat dibagi menjadi lingkungan yang disengaja, seperti lingkungan kependidikan, kebudayaan, masyarakat dan lain-lain, sedangkan lingkungan yang tidak disengaja adalah lingkungan alam.
Dalam proses pendidikan islam, lingkungan merupakan suatu hal yang memberikan suasana yang memperlancar jalannya proses pendidikan islam.
e.       Cita-cita atau tujuan
Untuk ketepatgunaan proses kependidikan, psikologi pendidikan akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk pada ilmu pengetahuan.
Pegangan bagi para pendidik adalah norma dan nilai dasar seperti telah ditetapkan dalam sumber okok ajaran islam. Sedankan kepribadian muslim yang serbaguna adalah pola kepribadian yang bernafaskan islam sesuai dengan nilai-nilai ajaran sumber pokok islam.
Untuk melaksanakan kelima faktor tersebut adalah dengan cara menerapkan nilai-nilai yang terkandung  didalamnya. Model-model tersebut adalah:
a.       Secara pedagogis
Manusia didik adalah manusia yang harus didik secara sistematis, konsisten dan berkesinambungan.
b.      Secara epistimologis
Manusia didik dianugrahi keinginan untuk mencari tahu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang makin meluas dan mendalam.
c.       Secara kurikuler
Pola kurikuler adalah berisi sistem-sistem keilmuan yang teoritis dan praktis yang lentur terhadap tuntunan modernisasi kehidupan umat manusia dari waktu ke waktu.[11]
4.      Pendekatan Keagamaan
Pendekatan keagamaan yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, netode sampai jenis-jenis pendidikan.[12]
Cara kerja pendekatan keagamaan ini berbeda dengan pendekatan filosofis maupun pendekatan yang lainnya, karena cara kerjanya ditumpuhkan sepenuhnya pada keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang untuk meyakini terlebih dahulu segala sesuatu yang diajarkan dalam agama.
Terkait dengan teori pendidikan Islam, mengemukakan bahwa dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
Pendekatan ini memandang bahwa ajaran islam yang bersumberkan kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Nabi menjadi sumber impirasi dan motivasi pendidikan islam. Secara prinsipil, Allah SWT telah memberi petunjuk bagaimana agar manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki srtuktur dan fisik yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, dapat berkembang ke arah pola kehidupan yang bertaqwa kepada khalik-nya, tidak menyimpang ke jalan yang ingkar kepada-Nya.
Allah telah memberikan dua alternatif pilihan yaitu jalan hidup yang benar atau jalan hidup yang sesat untuk dipilih oleh manusia melalui pertimbangan akal pikirannya yang dibantu oleh fungsi-fungsi psikologis lainnya.
Allah telah menganugerahkan kepada tiap diri manusia suatu kemampuan dasar yang disebut Fitrah-Diniyyah yang tetap tak berubah, yang dapat dipengaruhi perkembangannya oleh pendidikan islam. Bagaimana agar pengaruh pendidikan itu efektif adalah bergantung pada sikap dan prilaku pendidik itu sendiri. Sikap dan prilaku pendidik berpusat pada kelemah-lembutan dan rasa kasih sayang. Dari sikap ini akan timbul rasa dekat diri manusia didik kepada pendidik. Apa lagi jika disertai rasa simpatik pendidik yang manifestasikannya dengan cara memberi kemudahan dan menggembirakan hati mereka bukan mempersulit atau menakut-nakuti sehingga menimbulkan antipatik. Sabda nabi:[13]
يسّروا ولا تعسّروا بشّروا ولا تنفّروا                                                              
Prinsip demikian telah diterapkan Nabi SAW dalam mendidik kaumnya di Makkah dan Madinah.
Berdasarkan pendekatan keagamaan, tujuan pendidikan islam adalah pengabdian dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT
Model yang ideal bagi proses pendidikan islam sejalan dengan nilai-nilai religious ; islami tersebut diatas dapat didiskripsikan secara principal sebagai berikut :
1.      Pandangan religious, tiap manusia adalah mahkluk yang berketuhanan yang mampu mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertaqwa dan taat kepada Allah. Ia mampu membersihkan jiwanya dengan mengamalkan agama islam. Mendapatkan keridhoan Allah adalah menjadi cita-cita hidup seorang muslim. Oleh karena itu, seluruh tingkah lakunya mengandung niat yang ikhlas untuk beribadah kepada-Nya.
2.      Proses kependidikan, diarahkan kepada terbentuknya manusia muslim yang dedikatif kepada Allah dan yang bersikap menyerahkan diri secara total kapada-Nya. Dirinya dan keseluruhan hidupnya adalah milik Allah semata
3.      Kulikuler, proses kependidikan islam harus diisi dengan materi pemahaman yang mengandung nilai spiritual, yang komunikatif kapada Maha Pencipta Alam, serta mendorong minat manusia didik untuk mangamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[14]
Strategi Operasionalisasinya adalah meletakkan manusia didik berada dalam proses pendidikan sepanjang hayat dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Belajar tidak dibatasi dalam bentuk institusi atau formal melainkan berada dalam kebebasan sepanjang hayat. Sekolah hanya merupakan bentuk institusional kependidikan yang formalistic yang mempersiapkan manusia didik untuk menerjuni samudra kahidupan yang lebih luas.
5.      Pendekatan Historis
Analisis ilmu pendidikan islam dilihat dari latar belakang historis, berarti menempatkan sasaran analisa pada fakta-fakta sejarah umat islam yang berawal dari Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah SAW. Sejak pengangkatan Muhammad menjadi utusan Allah, tahap awal dari proses pendidikan islam dimulai yaitu pada tahun ke-13 sebelum hijrah ke Madinah, pada waktu Nabi berusia 40 tahun.
Pendidikan islam berproses berdasarkan pendekatan individual, kemudian mengembangkan kearah pendekatan keluarga, dan berlanjut ke arah pendekatan sosiologis yang semakin meluas ke arah pendekatan nasional dan berpuncak pada pendekatan universal.
Berbagai pandangan dari ulama dan ilmuan islam tentang faktor historis untuk menganalisa pendidikan islam menunjukkan bahwa pada prinsipnya pendidikan islam berproses dalam beberapa aspek :
1.      Ideal : proses mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan cita-cita ajaran islam dapat berlangsung dengan lancer bila berprinsip pada konsistensi dan kesinambungan dalam suatu sistem kemasyarakatan yang teratur rapi.
2.      Institusional : tujuan atau cita-cita itu akan lebih mudah dicapai melalui proses kependidikan jika ditransformasikan melaui lembaga kependidikan, karena lembaga menjadi wadah pengorganisasian dan pelaksanaan program untuk mencapai tujuan pendidikan.
3.      Srtuktur : dengan bentuk kelembagaan, kependidikan yang berjenjang, tujuan pendidikan islam dicapai secara bertahap sesuai tingkat-tingkat perkembangan manusia didik.
4.      Materiil : tujuan akhir dan sementara pendidikan islam menentukan corak materi pelajaran yang baru dapat efektif dan efisien, jika diajarkan dengan sistem dan metode yang tepat guna sesuai dengan karakteristik dari idealitas nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan.[15]
Materi dengan tujuan harus relevan, sejalan dan seirama. Beberapa aspek tersebut menjadi cirri-ciri pokok perkembangan perkembangan islam dilihat dari segi historis.
C. Ayat-ayat yang terkait pendekatan pembelajaran
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya :Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (Al-ma’idah :58)
َاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ .
Artinya :“ Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui . [al-Baqarah: 21-22]
انَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًاوَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(al-anfal: 2)
افلا ينظرون الى الابل كيف خلقت والى السماء كيف رفعت والى الجبال كيف نصبت  والى الارض كيف سطحت   فذكر انما انت مذكر .
Artinya: Mengapa mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Langit bagaimana ia ditinggikan. Gunung-gunung bagaimana dia ditegakkan.  Dan bumi bagaiman dia dihamparkan. Maka berilah peringatan ! Karena sungguh kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.


[1] Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h.104.
[7] Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h.114
[8] Ibid, h.123.
[9] Ibid, h. 133-134
[11] Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h. 148
[13] Muhammad Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), h. 154
[14] Ibid, h.154
[15] Ibid, h. 162
Share this article :

Post a Comment

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger