English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Kumpulan Hadits
News Update :
Home » » Pendekatan Komunikatif, Analitik, dan Non Analitik

Pendekatan Komunikatif, Analitik, dan Non Analitik

Penulis : azid zainuri on Wednesday, July 3, 2013 | 8:32 PM


A.    Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif dapat dikatakan dengan metode komunikatif,yang mempunyai pandangan tentang pengajaran bahasa yang komunikatif.  Pengajaran yang komunikatif artinya pengajaran yang dilandasi oleh teori komunikatif atau fungsi bahasa.
Tujuan pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif adalah untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran keempat ketrampilan berbahasa seperti mendngar,berbicara, membaca dan menulis.  Teori tentang hakikat bahasa yang melandasi pendekatan komunikatif adalah teori yang menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk menyatakan fungsional atau komunikatif.

Pendekatan komunikatif berorientasi pada proses belajar mengajar bahasa yang berdasarkan pada tugas dan fungsi berkomunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif ialah:
1.  Materi harus terdiri dari bahasa sebagai alat komunikasi.
 2. Desain materi harus menekankan proses belajar mengajar dan bukan pokok bahasan.
3.  Materi harus memberi dorongan kepada pelajar untuk berkomunikasi secara wajar.[1]
Dalam pendekatan komunikatif, yang menjadi acuan adalah kebutuhan si terdidik dan fungsi bahasa. Pendekatan komunikatif berusaha membuat si terdidik memiliki kecakapan berbahasa. Dengan sendirinya, acuan pokok setiap unit pelajaran ialah fungsi bahasa dan bukan tata bahasa. Dengan kata lain, tata bahasa disajikan bukan sebagai tujuan akhir, akan tetapi sarana untuk melaksanakan maksud komunikasi.
Para penganut pendekatan komunkatif ini mengakui adanya tujuh fungsi dasar dari suatu bahasa, yaitu:
1.      Fungsi instrumental untuk mendapatkan sesuatu.
2.      Fungsi pengatur untuk mengatur tingkah laku orang lain.
3.      Fungsi intraksional untuk berinteraksi dengan orang lain.
4.      Fungsi personal atau pribadi untuk menyatakan makna dan perasaan pribadi.
5.      Fungsi heuristic atau penemuan sesuatu untuk belajar dan menarik suatu kesimpulan.
6.      Fungsi imajinatif untuk menciptakan sesuatu.
7.      Fungsi representasional untuk mengkomunikasikan informasi.[2]
Pandangan komunikatif tentang bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah sistem untuk menyatakan makna serta mengadakan interaksi dan komunikasi. Struktur bahasa juga menunjukkan penggunaannya secara fungsional dan komunikatif.
Elemen yang dapat dianggap sebagai dasar teori belajar yaitu:
1.      Prinsip komunikasi nyata.
2.      Tugas yang bermakna.
3.      Kebermaknaan bahasa. Artinya semua kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata, penyelesaian tugas yang bermakna serta penggunaan bahasa yang bermakna bagi pembelajar dan bukan ketika pola kalimat secara mekanis akan mendorong proses belajar dan pemerolehan bahasa.[3]
Oleh karena itu, tata bahasa bukanlah tujuan utama pengajaran bahasa. Penguasaan tata bahasa adalah sebagai syarat untuk bisa mencapai tujuan. Tujuan pengajaran bahasa memperoleh kemampuan komunikatif dengan bahasa secara efektif dan wajar.
Dalam pelaksanaan pendekatan komunikatif, ada ciri-ciri pelaksanaan pendekatan komunikatif sebagaimana yang diutarakan oleh Finochiaro dan Brumfit, adalah sebagai berikut:
1.      Makna merupakan hal yang penting.
2.      Percakapan atau dialog kalau digunakan harus berpusat di sekitar fungsi-fungsi komunikatif dan tidak dihalalkan atau diingat secara formal.
3.      Kontekstualisasi merupakan premis utama atau dasar pikiran pokok.
4.      Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi.
5.      Komunikasi efektif sangat diidamkan.
6.      Latihan runtundapat diadakan tapi jangan sampai memberatkan.
7.      Ucapan yang dapat dipahami sangat dibutuhkan.
8.      Setiap sarana yang membantu para pembelajar diterima dengan baik dan harus disesuaikan dengan usia,minat dan seterusnya.
9.      Segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak permulaan.
10.  Penggunaan bahasa asli seara bijaksana dapat diterima kalau memang diperlukan dan layak.
11.  Terjemahan dapat dipakai kalau diperlukan oleh siswa atau mereka memperoleh keuntungan.
12.  Membaca dan menulis dapat dimulai sejak dini, dari hari pertama kalau diinginkan.
13.  Sistem linguistik bahasa sasaran akan dapat dipelajari dengan sangat baik melalui proses pergumulan untuk berkomunikasi.
14.  Kompetensi komunikatif merupakan tujuan yang diidamkan (yaitu kemampuan menggunakan sistem linguistic secara efektif dan memadai).
15.  Variasi linguistic merupakansuatu konsepinti dalammateri dan metodelogi.
16.  Pengurutan ditentukan oleh perimbangan mengenai isi, fungsi atau makna yang menimbulkan minat.
17.  Guru menolong para pembelajar sedemikian rupa sehingga dapat mendorong mereka bekerja dengan bahasa.
18.  Bahasa diciptakan oleh individu kerap kali melalui proses coba-coba dan salah satu trial method.
19.  Kefasihan dan bahasa yang diterima merupakan tujuan utama, ketepatan nilai bukan dalam keabstrakan tetapi konteksnya.
20.  Para pembelajar diharapkan berinteraksi dengan orang lain, melalui kelompok atau pasangan secara lisan atau tulisan.
21.  Guru tidak dapat mengetahui secara tepat bahasa apa yang akan dipakaioleh pembelajar.
22.  Motivasi intrinsik dan minat terhadap apa yang dikomunikasian dengan bahasa itu akan muncul.[4]
Sedangkan Richard dan Rodgers mengungkapkan ciri-ciri penggunaan bahasa ini adalah:
1.      Bahasa adalah suatu sistem bagi ekspresi makna.
2.      Fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi.
3.      Struktur bahasa mencerminkan penggunaan fungsional dan komunikatif.
4.      Unit-unit dasar bahasa tidak hanya merupakan ciri-ciri gramatikal strukturnya, tetapi kategori-kategori makna fungsional dan komunkatif seperti dalam wacana.
Ada empat variabel yang digunakan sebagai kompetensi komunikatif, yaitu:
1.      Kompetensi strategic, mengacu pada strategi yang dipakai oleh para komunikator untuk memprakarsai, mengakhiri, memelihara, mereparasi dan mengarahkan komunikasi.
2.      Kompetensi wacana yang mengacu pada interpretasi unsure-unsur pesan pribadi, menyangkut antara hubungan dan cara menyatakan makna dalam hubungan keseluruhan wacana teks.
3.      Kompetensi gramatikal, mengacu pada kompetensi linguistic Chomsky dan “formally possible” Hymes,ini merupakan ranah kepasitas gramatikal dan leksikal.
4.      Kompetensi sosiolinguistik, mengacu pada  pemahaman konteks sosial tempat berlangsungnya komunikasi.[5]
Sedangkan prosedur pelaksanaan dan pengajaran komunikatif adalah sebagai berikut:
1.      Komunikasi sebanyak-banyaknya sesuai bahan ajar yang disediakan.
2.      Penyajian butir-butir linguistik terkodifikasi guna komunikasi efektif.
3.      Latihan jika diperlukan.
Dari prosedur diatas, maka pendekatan komunikatif memperlukan silabus, desain silabus yang sesuai dengan pendekatan ini adalah:
1.      Sesuai dengan kebutuhan siswa yang akan memakai materi tersebut.
2.      Menyajikan fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan dan fungsi-fungsi tersebut disusun sesuai dengan kebutuhan.
3.      Menawarkan pola-pola bahasa untuk mengekspresikan atau melakukan fungsi.
4.      Membuat keseimbangan antara pengetahuan struktur bahasa yang telah dikuasai dengan kebutuhan fungsional siswa untuk menentukan penyajian materi.[6]
Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan pada pembelajaran bahasa arab, prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.      Sebaiknya menggunakan teks-teks arab dari refrensi aslinya seperti surat kabar,majalah atau lainnya yang berbahasa murni.
2.      Latihan-latihan siswa sebaiknya dengan menggunakan bentuk-bentuk yang beragam dan model yang berbeda-beda untuk mengungkapkan satu makna.
3.      Memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa agar mengungkapkan kreativitas bahasanya dan pikiran-pikrannya dalam semua hal yang telah diketahuinya baik lewat pendengaran maupun bacaan.
4.      Sebaiknya latihan-latihan untuk menggunakan bahasa di dalam memahami konteks-konteks sosial.
5.      Peran guru dalam pendekatan komunkatif adalah mempermdah prosesbelajar dan sebagai fasilitator bagi siswa dalam menggunakan bahasa baik kosa kata maupun kalimat di dalam komunikasi yang hidup.
6.      Adanya kegiatan kebahasaan untuk menumbuhkan ketrampilan komunikasi.
7.      Mempersedikit penggunaan bahasa ibu serta memperbanyak penggunaan bahasa yang dipelajari (Arab) sebagai alat komunikasi antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa. Tidak hanya dalam menyampaikan materi pelajaran saja melainkan juga dalam percakapan di luar proses belajar mengajar sebagai proses belajar mengajar sebagai proses pembiasan.[7]



B.     Pendekatan Analitik
Pendekatan Analisis atau Analytical Approach  dikenal dengan sebutan Formal Approach yaitu pendekatan yang didasarkan pada seperangkat ungkapan-ungkapan dan asumsi-asumsi kebahasaan dan sosiolinguistics[8]. Pendekatan ini menganggap pembelajaran bahasa sebagai suatu kegiatan rutin yang konvensional, dengan mengikuti cara-cara yang telah biasa dilakukan berdasarkan pengalaman.
Menurut pendekatan analitik pembelajaran dimulai dengan rumusan-rumusan teoritis kemudian diaplikasikan dengan contoh-contoh pemakaiannya, serta dengan menjabarkannya. Pendekatan ini sering juga disebut dengan pendekatan informatif. Disebut demikian karena kecenderungannya menyampaikan informasi tentang bahasa tanpa memperdulikan pengetahuan praktis atau kemampuan berbahasa.
Ciri-ciri pendekatan analisis:
1.      Berdasarkan pada kebahasaan.
2.      Didasarkan pada kajian-kajian ilmu sosial kebahasaan, semantic proses bicara (speech act),discourse analysis, dan notions and funtions.
3.      Menuntut adanya needs analysis kebahasaan, metodelogi kebahasaan modern, national syllabus.
4.       Mengharuskan penyiapan materi pengajaran baru serta strategi pengajaran baru.
5.      Sebagian besar pengikut pendekatan ini menetapkan bahasa yang disampaikan kepada siswa.
6.      Tidak berangkat dari prinsip-prinsip psikologi atau pendidikan dan menyerupai cognitive approach.
7.       Berharap adanya tambahan motivasi siswa ketika guru mencapai tuntutan kebahasaan siswa dan berusaha untuk memenuhinya.[9]
Ketika mengguakan pendekatan analitik ini juga perlu pendekatan formal yang mempunyai  dua metode pembelajaran bahasa, yaitu terjemahan tatabahasa dan metode membaca.
a.       Metode terjemahan tatabahasa mengutamakan pemberian pola-pola tatabahasa dengan menerjemahkan contoh-contoh pemakaiannya. Metode ini berkecenderungan menghasilkan lulusan yang tahu tentang bahasa, tetapi tidak berkemampuan untuk menggunakannya dalam berkomunikasi.
b.      Metode membaca.
Metode ini menggunakan bahasa tulis sebagai sarana belajar bahasa sehingga analisis dilakukan melalui teks bacaan yang akhirnya bisa menimbulkan kebosanan. Pelaksanaan metode ini mungkin saja lebih mudah, namun pada akhirnya dapat mengurangi motivasi karena peserta didik merasakan tidak ada gunanya. Kosa kata diajarkan dalam jumlah banyak tanpa menghiraukan kemampuan menggunakannya dalam berbagai bentuk dan situasi berbahasa.

C.    Pendekatan Nonanalitik
Pendekatan non analitik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Didasarkan pada konsep pshycolinguistics dan pendidikan bukan pada konsep-konsep kebahasaan.
2.      Pendekatan ini juga disebut dengan pendekatan global dan integrated naturalistic
3.      Pengajaran bahasa berlangsung dalam situasi kehidupan alami. Dan difokuskan pada tema-tema yang berhubungan dengan kehidupan siswa dan aspek-aspek kehidupan manusia pada umunya.
4.      Menuntut adanya persiapan materi pengajaran baru.
5.      Sulit menetukan bahasa yang disampaikan kepada siswa, sehingga pengajaran bahasa itu adalah merupakan latihan sungguhan bukan yang dibuat-buat.
6.      Didasarkan pada asumsi-asumsi khusus terhadap siswa dan difokuskan pada pemenuhan kesempatan pemerolehan bahasa bukan pembelajarannya.
7.      Motivasi siswa akan muncul di sela-sela komunikasi dengan penutur bahasa dan bergabung dalam situasi komunikasi sungguhan.[10]
Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan nonanalitik:
a.       Metode langsung.
Pengajaran bahasa yang langsung menggunakan bahasa tersebut tanpa melakukan terjemahan dan tanpa mempersoalkan kaidah-kaidah tatabahasa.
b.      Metode pembatasan
Pengajaran bahasa dengan jalan menggunakan langsung bahasa yang sedang dipelajari itu, tetapi dengan seleksi kosakata dan seleksi tatabahasa; yang ditekankan adalah unsur-unsur bahasa yang amat penting.
c.       Metode intensif
Metode mengajar yang digunakan untuk jumlah peserta didik terbatas sehingga tubian(drill) dan pengulangan pengucapan kalimat lebih sering, dan perbaikan ucapan dapat dilakukan segera. Metode ini menuntut kemampuan belajar bahasa yang tinggi dengan motivasi yang tinggi pula.
d.      Metode audio-visual
Metode audio-visual mengajarkan bahasa dengan memanfaatkan alat-alat pandang dengar, seperti video, kartu, tape-recorder, program televisi, sehingga pengajaran menjadi lebih hidup dan menarik. Kecenderungan metode ini adalah menghasilkan peserta didik yang berkemampuan dalam berbahasa lisan.[11]


[1] Sut Tri, Pendekatan Komunikatif Bahasa Indonesia, diakses dari http://www.pendekatan-komunikatif.html  pada tanggal 24 April 2013
[2] Bisri Musthofa, Metode dan Strategi Pembelajaran (Malang: UIN Maliki Press, 2012), h.16
[3] Ibid, h. 7
[4] Ibid, h. 19
[5] Wahab Rosyidi dan Mamluatul Ni’mah, Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Maliki, 2011), h. 46
[6] Ibid, h.53
[7] Bisri Musthofa, Metode dan Strategi Pembelajaran (Malang: UIN Maliki Press, 2012), h.21
[8]Firqotu Tsalisah, Pendekatan Analitik dan nonanalitik diakses dari http://www.pendekatan-analisis-non-analisis.html pada tanggal 22 April 2013
[9] Bisri Musthofa, Metode dan Strategi Pembelajaran (Malang: UIN Maliki Press, 2012), h.11
[10] Ibid, h.14
[11] Firqotu Tsalisah, Pendekatan Analitik dan nonanalitik diakses dari http://www.pendekatan-analisis-non-analisis.html pada tanggal 22 April 2013
Share this article :

Post a Comment

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger