English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

alt/text gambar

News Update :
Home » , » Ilmu Pengetahuan Dan Agama

Ilmu Pengetahuan Dan Agama

Penulis : azid zainuri on Wednesday, July 3, 2013 | 8:17 PM


A.    Arti Filsafat Ilmu Pengetahuan
secara filosofis, seperti halnya masalah lain, arti filsafat ilmu pengetahuan dapat dipahami berdasarkan pendekatan empat pertanyaan ilmiah, diantaranya adalah :
1.      Apakah ilmu pengetahuan itu?, yang membutuhkan jawaban berupa hakikat (isi arti hakiki), yaitu berupa pengetahuan substansial mengenai ilmu pengetahuan.
2.      Mengapa ilmu pengetahuan itu ada?, yang memerlukan jawaban tentang sabab musabab keberadaan atau pengetahuan kausal ilmu pengetahuan.

3.      Bagaimana ilmu pengetahuan itu berada?, yang memerlukan jawaban mengenai metode untuk mengetahui objek, yaitu berupa pengetahuan metodis ilmu pengetahuan.
4.      Bagaimana ilmu pengetahuan itu berada?, yang memerlukan jawaban berupa manfaat ilmu pengetahuan bagi hidup dan kehidupan manusia, yaitu berupa pengetahuan normative ilmu pengetahuan.
                                         
a.      Maksud Filsafat Ilmu Pengetahuan
Adapun maksud dari ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang objek materinya berupa ilmu pengetahuan dalam berbagai jenis, bentuk dan sifatnya.Adapun objek formanya berupa hakikat ilmu pengetahuan.
Junis-jenis ilmu pengetahuan menurut objeknya dapat diklasifikasikan pada :
1.      ilmu pengetahuan humaniora, dengan objek materi manusia.
2.      Ilmu pengetahuan social, dengan objek materi masyarakat.
3.      Ilmu pengetahuan alam, dengan objek materi badan-badan banda alam.
4.      Ilmu pengetahuan agama dengan objek materi Tuhan sebagai causa prima.
Pada beberapa objek materi tersebut apabila dipikirkan secara cermat, antara yang satu dengan yang lainnya merupakan suatu hubungan yang tak terpisahkan,yaitu hubungan sebab-akibat. Dengan demikian, apabila dipelajari salahsatunya, maka yang lain juga harus dipertimbangkan.

b.      Keberadaan Filsafat Ilmu Pengetahuan
Terdapat dua sebab keberadaan Filsafat Ilmu Pengetahuan, diantaranya adalah :
1.      Factor Intern
Bahwa perkembangan pluralitas ilmu pengetahuan didasarkan pada sifat internal objek penyelidikan yang terdiri atas bagian-bagian. Karena setiap bagian-bagian  mengandung kebenaran lebih obyektif, pasti, dan dapat dipercaya. Dan atas dorongan internal tersebut ilmu pengetahuan lahir dari filsafat dengan objek, metode, system dan kebenaran yang bersifat khusus.
2.      Factor Eekstern
Merupakan satu factor kuat sebab munculnya ilmu pengetahuan.Factor ini berupa kenyataan bahwa laju perkembangan jumlah penduduk dunia sudah tidak berimbang lagi dengan ketersediaan sumber daya alam.Pengetahuan demikian memiliki kemampuan reproduktif untuk mengolah sumber daya alam.[1]

c.       Objek Ilmu Pengetahuan
Menurut penjelasan Webster tersebut, ada beberapa penekanan mengenai objek, seperti sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan diindera, sesuatu yang dapat disadari secara fisis atau mental, suatu tujuan akhir kegitan atau usaha, dan suatu hal yang menjadi masalah pokok suatu penyelidikan.
Dapat difahami bahwa apa yang dimaksud dengan objekadalah sasaran pokok atau tujuan penyelidikan keilmuan. Pembicaraan mengenai objek dikenal ada dua jenis yaitu :
1.      Objek Materi
Adapun yang dimaksud dengan objek materi adalah sasaran pokok penyelidikan berupa materi atau materi yang dihadirkan dalam dalam suatu pemikiran atau penelitian sedangkan yang terkandung di dalamnya bias saja berupa benda-benda material dan ataupun benda-benda non material.
      Suatu objek materi, baik yang material sebenarnya merupakan suatu substansi yang tidak begitu mudah untuk diketahui, karena didalamnya terkandung segi-segi yang secara kuantitatif berganda (prural), berjenis-jenis, dan secara kualitatif bertingkat-tingkat dari yang kongkrit sampai ketingkat abstrak.
Oleh sebab itu, dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar dan pasti mengenai suatu obyek, dengan mempertimbangkan keterbatasan dan kemampuan akal pikiran manusia, maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan.Pembatasan ini dilakukn dengan menentukan pertamakali jenis objek manusia, benda-benda, dan sebagainya.Selanjutnya titik pandang (menurut segi mana objek materi itu diselidiki). Penentuan akan jenis objek itulah yang menjadi objek materi tertentu dan penentuan titik pandang itu kemudian menjadi objek forma menurut sudut tertentu dari objek materi.
2.      Objek Forma
Deskripsi tentang objek forma ini yang menjelaskan pentingnya arti, posisi dan fungsi objek di dalam ilmu pengetahuan.Dengan penentuan suatu objek forma, maka kajian ilmu pengetahuan mengenai objek materinya menjadi berjenis, bersifat dan berbentuk khusus, jelas dan kongkrit.Misalnya, didalam diri manusia terkandung unsure-unsur dan segi-segi yang banyak dan berjenis-jenis.Secara keseluruhan, manusia memiliki aspek-aspek kejiwaan, keragaan, keindividuan dan kesosialan serta kemakhlukan Tuhan.
Masing-masing aspek merupakan kemungkinan bagi munculnya pluralitas jenis, sifat dan bentuk ilmu pengetahuan tentang manusia yang berbeda-beda.Demikianlah lalu muncul berbagai macam ilmu pengetahuan khusus manusia, seperti psikologi, biologi dan lain-lain.Yang akhirnya tadinya ilmu pengetahuan bersifat umum universal, lalu menjadi khusus, rinci, khusus, jelas, pasti, real, kongkrit.[2]

d.      Metode Ilmu Pengetahuan
Metode adalah cara cara-cara penyelidikan yang bersifat keilmuan, yang sering disebut metode ilmiah. Metode ini perlu, agar tujuan keilmuanyang berupa kebenaran objektif dan dapat dibuktikan bias tercapai. Dengan metode ilmiah, kedudukan pengetahuan berubah menjadi ilmu pengetahuan , yaitu menjadi lebih khusus dan terbatas lingkupan studinya.[3]

B.     Filsafat Agama
a.      Pengertian Filsafat Agama
Filsafat berasal dari kata yunani yang tersusun dari dua kata yaitu philein dalam arti cinta dan sopbos dalam arti hikmat.
Dalam bahasa Indonesia banyak terpakai kata filsafat. Dan ini kelihatannya bukan berasal dari kata arab filsafat dan bukan pula dari kata barat philosophy.[4]
Istilah agama dalam bahasa asing bermacam-macam, antara lain : religio, religion, godstedienst, addien, dan lain-lain.
Agama adalah suatu urusan mengenai pengalaman yang dipandang mempunyai nilai yang tertinggi, pengabdian terhadap suatu kekuasaan atau kekuasaan-kekuasaan yang dipercayai sebagai sesuatu yang menjadi asal mula, yang menambah dan yang mempertahankan nilai-nilai ini, dan sejumlah ungkapan-ungkapan yang sesuai tentang urusan serta pengabdian ini baik dengan jalan melauli upacara-upacara yang simbolis maupun melalui perbuatan lain yang bersifat individual serta social.[5]

b.      Filsafat Agama
Dalam mempelajari filsafat agama yang perlu dibicarakan adalah ada dua kemungkinan yang berbeda :
1.      Dalam filsafat tidak membicarakan kepercayaan agama atau kebenaran agama. Misalnya dalam membicarakan adakah Allah dan bagaimanakah Allah dapat menyatakan diri, wahyu, ilham, semua tidak dapat dibicarakan.
2.      Ilmu agama sebagai salah satu ilmu vak yang berarti termasuk ilmu-ilmu budaya yang menyelidiki realitas lain daripada realitas ini.
Kalau adailmu agama, maka ada pula filsafat agama.Dan yang dipelajari filsafat agama ialah soal-soal yang fundamental dalam agama.
Menurut Prof. Dr. D.C. Mulder (1972, halaman 30), filsafat agamamerupakan bagian filsafat ke-Tuhanan.Filsafat ke-Tuhanan termasuk filsafat sistematis yang mempelajari cosmos, manusia dan tuhan sendiri.[6]

c.       Teori Tentang Agama
Sudah lama orang memikirkan agama dan menanyakan agama, bagaimana terjadinya agama dan strukturnya.Ilmu agama mencapai mutu ilmiah, baru pada abad yang lalu, sebab agama sebelumnya masuk filsafat.
Pada zaman Renainsance dan pencerahan, pandangan orang pada agama belum juga menguntungkan sebab agama dianggap satu tingkat kebudayaan yang belum tinggi.Pandangan orang pada waktu itu, agama yang perlu dianut dan akali hanya Islam dan Nasrani.Agama-agama mulai diperhatikan pada zaman romantic yang mulai memperhatikan yang irrasional (tidak masuk akal).Aliran Romantik inilah yang mulai menggali agama-agama kesukuan yang masih ada.
E.B Taylor, orang yang pertama-tama memetik buah ilmu agama dan sejarahnya. Dia mulai menjelaskan teorinya terutama agama-agama primitive (kesukaan) diseputar tahun 1871.
Sebenarnya, teori Taylor terpengaruhi teori Darwin (1809) mengenai evolusi, teori Darwin terpengaruh teori spencer yang tadinya dipakai dalam ilmu hayat.Teorinya dimulai dari belum adanya agama sampai timbulnya agama.
a)      Animisme
Dr. Harun Nasution (1973, halaman 26) secara ringkas menerangkan bahwa masyarakat primitive menganggap bahwa semua benda baik yang bernyawa atau tidak mempunyai roh. Faham inilah yang dikatakan animism, dari kata latin anima yang berarti berjiwa.
Pada masyarakat premitif belum membedakan secara tajam pada yang disebut materi dan roh roh menurut mereka tersusun dari suatu zat atau materi yang halus sekali yang mirip dengan uap atau udara.Mereka mempunyai faham bahwa roh itu makan, mempunyai bentuk dan umur.

b)      Dinamisme
Dinamisme berasal dari kata yunani dynamis yang berasal dari kekuatan.Pada masyarakat premitif atau pada tingkat kebudayaan yang masih rendah, tiap-tiap benda dapat mempunyai kekuatan batin yang rahasianya tidak dapat diketahui, kekuatan yang misterius. Kekuatan batin yang misterius ini mempunyai banyak nama.


[1] Suparlan Suhartono, Ph.D, Filsafat Ilmu Pengetahuan, hlm:34.
[2]idem, hlm:92.
[3] 93.
[4] Prof.Dr.Harun Nasution, falsafat agama
[5] Drs. Aslam Hady, Filsafat Agama, hlm: 5.
[6] Idem, hlm: 8.
Share this article :

Post a Comment

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger