English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

alt/text gambar

News Update :
Home » , » Analisis Kesalahan Bahasa

Analisis Kesalahan Bahasa

Penulis : azid zainuri on Wednesday, July 3, 2013 | 7:57 PM


A.      Pengertian Kesalahan Berbahasa
Dalam bukunya yang berjudul “Common Error in Language Learning” H.V. George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan (unwanted form) khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Valdman yang mengatakan bahwa yang pertama-tama harus dipikirkan sebelum mengadakan pembahasan tentang berbagai pendekatan dan analisis kesalahan berbahasa adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan. Sebagian besar guru bahasa Indonesia menggunakan kriteria ragam bahasa baku sebagai standar penyimpangan.[1]
Pengertian kesalahan berbahasa dibahas juga oleh S. Piet Corder dalam bukunya yang berjudul Introducing Applied Linguistics. Dikemukakan oleh Corder bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua) yang dipelajarinya. Dikatakan oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan penutur asli sama-sama mempunyai kemugkinan berbuat kesalahan berbahasa.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian kesalahan berbahasa yang telah disebutkan di atas, dapatlah dikemukakan bahwa kesalahan berbahasa Indonesia adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem kaidah bahasa Indonesia baku, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang menyimpang dari sistem ejaan dan tanda baca yang telah ditetapkan sebagaimana dinyatakan dalam buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Adapun sistem kaidah bahasa Indonesia yang digunakan sebagai standar acuan atau kriteria untuk menentukan suatu bentuk tuturan salah atau tidak adalah sistem kaidah bahasa baku. Kodifikasi kaidah bahasa baku dapat kita lihat dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.[2]
Pembahasan tentang kesalahan berbahasa merupakan masalah yang tidak sederhana, tetapi bisa juga menjadi tidak ada masalah yang harus dibahas dalam kesalahan berbahasa. Oleh karena itu, anda harus mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian kesalahan berbahasa. Tidak mungkin anda mengerti kesalahan berbahasa apabila anda tidak memiliki pengetahuan atau teori landasan tentang hal tersebut. Tidak mungkin anda memilikipengetahuan atau teori landasan tentang kesalahan berbahasa apabila anda tidak pernah mempelajari tentang itu. Tidak mungkin anda tidak mempelajari hal itu apabila anda ingin mengetahui dan memiliki teori landasan tentang kesalahan berbahasa.
Istilah kesalahan berbahasa memiliki pengertian yang beragam. Untuk itu, pengertian kesalahan berbahasa perlu diketahui lebih awal sebelum kita membahas tentang kesalahan berbahasa. Corder (1974) menggunakan 3 (tiga) istilah untuk membatasi kesalahan berbahasa: (1) Lapses, (2) Errors, dan (3) Mistake.
Lapses, Error dan Mistake adalah istilah-istilah dalam wilayah kesalahan berbahasa. Ketiga istilah itu memiliki domain yang berbeda-beda dalam memandang kesalahan berbahasa. Corder (1974) menjelaskan:
1)      Lapses
Lapses adalah kesalahan berbahasa akibat penutur beralih cara untuk menyatakan sesuatu sebelum seluruh tuturan (kalimat) selesai dinyatakan selengkapnya. Untuk berbahasa lisan, jelas kesalahan ini diistilahkan dengan “slip of the tongue” sedang untuk berbahasa tulis, jenis kesalahan ini diistilahkan “slip of the pen”. Kesalahan ini terjadi akibat ketidak sengajaan dan tidak disadari oleh penuturnya.
2)      Error
Error adalah kesalahan berbahasa akibat penutur melanggar kaidah atau aturan tata bahasa (breaches of code). Kesalahan ini terjadi akibat penutur sudah memiliki aturan (kaidah) tata bahasa yang berbeda dari tata bahasa yang lain, sehingga itu berdampak pada kekurang sempurnaan atau ketidak mampuan penutur. Hal tersebut berimplikasi terhadap penggunaan bahasa, terjadi kesalahan berbahasa akibat penutur menggunakan kaidah bahasa yang salah.
3)      Mistake
Mistake adalah kesalahan berbahasa akibat penutur tidak tepat dalam memilih kata atau ungkapan untuk suatu situasi tertentu. Kesalahan ini mengacu kepada kesalahan akibat penutur tidak tepat menggunakan kaidah yang diketahui benar, bukan karena kurangnya penguasaan bahasa kedua (B2). Kesalahan terjadi pada produk tuturan yang tidak benar.[3]
Selama bertahun-tahun pengajaran bahasa selalu memandang bahwa penyimpangan berbahasa seorang anak yang sedang berusaha menguasai bahasa selalu dianggap sebagai kesalahan. Anggapan demikian kurang memperhatikan aspek psikologi pembelajar, karena setiap orang yang ingin menguasai sesuatu yang baru pasti melalui proses.
Belajar bahasa seperti halnya seorang yang belajar berenang, ia semula terjun ke kolam kemudian mencoba memukul-mukulkan tanganya ke air agar tidak tenggelam tetapi lama-kelamaan ia mendapatkan keseimbangan badan  dan mengetahui bagaimana menjaga tubuhnya agar tidak tenggelam ke dalam air. Latihan-latihan, serta usaha mengatasi kesulitan diri sendiri adalah langkah strategi untuk dapat berenang dengan baik. Belajar berenang, mengetik, atau membaca kesemuanya melibatkan suatu proses menuju keberhasilan dengan jalan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan. Dengan menggunakan kesalahan itu pembelajar mengadakan masukan, dan dengan masukan tersebut pembelajar mengadakan usaha baru yang secara berangsur-angsur menuju ketepatan sebagaimana yang diharapkan ( Brown, 1980 ).
Belajar bahasa seperti halnya bentuk-bentuk belajar sesuatu yang lain. Kekeliruan yang diperbuat oleh pembelajar selama dalam proses belajar tidak dapat dipandang sebagai kesalan begitu saja tetapi harus dipandang sebagai suatu bagian dari strategi belajar. Bahasa yang dipakai/dikuasai oleh seseorang yang sedang dalam proses belajar bahasa disebut bahasa antara (selinker, 1972).
Kesilapan-kesilapan yang dilakukan oleh orang yang sedang berusaha menguasai bahasa ke dua harus dipandang sebagai kesilapan yang dilakukan oleh seorang anak kecil yang sedang berusaha belajar bahasa ibu (B1). Seorang anak kecil yang tidak mampu mengucapkan /r/ pada kata ‘tri’ atau /q/ pada kata ‘Quran’, apakan akan kita salahkan apabila ia mengucapkan ‘tli’ dan ‘koran’.
Kesalahan-kesalahan berbahasa demikian, Corder (1971) membedakan istilah salah ( mistake), selip (lapses), dan silap (errors). Salah (mistakes) adalah penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang tepat sesuai dengan situasi yang ada. Selip (lapses) merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topic pembicaraan secara sesat. Kelelahan tubuh bisa menimbulkan selip bahasa. Dengan demikian selip bahasa terjadi secara tidak disengaja. Silap (errors) merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa. Faktor yang mendorong timbulnya kesilapan  adalah faktor kebahasaan yang mengikuti pola-pola tertentu.
Kesalahan berbahasa yang disebabkan  oleh lapses tidak memiliki implikasi  paedagogis yang berbahaya oleh karena itu tidak perlu dibicarakan di sini. Kesalahan berbahasa yang disebut mistakes terjadi secara tidak sistimatis oleh Corder disebut sebagai errors of performances. Hal ini kadang-kadang sulit dibedakan dengan kesalahan yang bersifat sistematis. Oleh karena itu sering disinggung dalam pembicaraan selanjutnya. Errors terjadi secara sistematis dan biasa disebut dengan errors of competence. Kesalahan sistematis merupakan fokus utama dalam pembicaraan bab ini, karenanya berbagai permasalahan yang berhubungan dengan kesilapan berbahasa akan diuraikan secara panjang lebar dan dicari implikasinya dalam pengajaran BI.
Dulay dan Burt (1982) dalam bukunya yang berjudul language Two mengemukakan bahwa kesilapan (mereka memakai istilah goofing) berdasarkan struktur lahirnya dikategorikan menjadi empat yaitu:
a.      Kesilapan yang mencerminkan struktur bahasa ibu tetapi strukturnya tidak dapat ditemukan pada data pemerolehan B1 dalam B2 (inference like goof),
b.      Kesilapan yang mencerminkan struktur B2 tetapi strukturnya dapat ditemukan pada data pemerolehan B1 dan B2 (L1 developmental goof),
c.       Kesilapan yang struktur lahirnya tidak dapat dikategorikan pada salah satu struktur B1 dan B2 (ambiguous goof), dan
d.      Kesilapan yang tidak mencerminkan struktur B1 dan strukturnya tidak dapat ditemukan pada data pemerolehan B1 dan B2 (Unique goof).[4]
Kekhilafan (error), menurut Nelson Brook dalam Syafi’ie (1984), itu “dosa/kesalahan” yang harus dihindari dan dampaknya harus dibatasi, tetapi kehadiran kekhilafan itu tidak dapat dihindari dalam pembelajaran bahasa kedua. Ditegaskan oleh Dulay, Burt maupun Ricard (1979), kekhilafan akan selalu muncul betapa pun usaha pencegahan dilakukan, tidak seorang pun dapat belajar bahasa tanpa melakukan kekhilafan (kesalahan) berbahasa. Menurut temuan kajian dalam bidang psikologi kognitif, setiap anak yang sedang memperoleh dan belajar bahasa kedua (B2) selalu membangun bahasa melalui proses kreativitas. Jadi, kekhilafan adalah hasil atau implikasi dari kreativitas, bukan suatu kesalahan berbahasa.
Kekhilafan adalah suatu hal yang wajar dan selalu dialami oleh anak (siswa) dalam proses pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua. Hal itu merupakan implikasi logis dari proses pembentukan kreatif siswa (anak). Hendrickson dalam Nurhadi (1990) menyimpulkan bahwa kekhilafan berbahasa bukanlah sesuatu yang semata-mata harus dihindari, melainkan sesuatu yang perlu dipelajari. Dengan mempelajari kekhilafan minimal ada 3 (tiga) informasi yang akan diperoleh guru (pengajar) bahasa, yakni:
1)      Kekhilafan berguna untuk umpan balik (feedback), yakni tentang seberapa jauh jarak yang harus ditempuh oleh anak untuk sampai kepada tujuan serta hal apa (materi) yang masih harus dipelajari ole hank (siswa);
2)      Kekhilafan berguna sebagai data/fakta e,piris untuk peneliti atau penelitian tentang bagaimana seseorang memperoleh dan mempelajari bahasa;
3)      Kekhilafan berguna sebagai masukan (input), bahwa kekhilafan adalah hal yang tidak terhindarkan dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa, dan merupakan salah satu strategi yang digunakan oleh anak untuk pemerolehan bahasanya (Corder; Richard, 1975).

B.       Kategori kesalahan berbahasa
Kesalahan berbahasa adalah suatu peristiwa yang bersifat inheren dalam setiap pemakaian bahasa baik secara lisan maupun tulis. Baik orang dewasa yang telah menguasai bahaasanya, anak-anak, maupun orang asing yang sedang mempelajari suatu bahasa dapat melakukan kesalahan-kesalahan berbahasa pada waktu mereka menggunakan bahasanya. Namun, jenis serta frekuensi kesalahan berbahasa pada anak-anak serta orang asing yang seedang mempelajari suatu bahasa berbeda dengan orang dewasa yang  telah menguasai bahasanya. Perbedaan ini bersumber dari perbedaan penguasaan kaidah-kaidah gramatika (grammatical competence) yang pada gilirannya jga menimbulkan perbedaan realisasi pemakaian bahasa yag dilakukannya (performance). Di samping itu, perbedaan itu juga bersumber dari penguasaan untuk menghasilkan atau menyusun tuturan yang sesuai dengan konteks komunikasi (comunicative competence) .
Salah satu hambatan dalam proses komunikasi adalah kurangnya keterampilan berbahasa. Ujud kurangnya keterampilan berbahasa itu antara lain disebabkan oleh kesalahan-kesalahan berbahasa. Kesalahan-kesalahan berbahasa ini menyebabkan gangguan terhadap peristiwa komunikasi, kecuali dalam hal pemakaian bahasa secara khusus seperti dalam lawak, jenis ilan tertentu, serta dalam puisi. Dalam pemakaian bahasa secara khusus itu, kadang-kadang kesalahan berbahasa sengaja dibuat atau disadari oleh penutur untuk mencapa efek tertentu sepeti lucu, menarik perhatian dan mendorong berpikir lebih intens.
Dalam masyarakat bahasa tertentu, misalnya dalam masyarakat Jawa, kesalahan-kesalahan berbahasa baik kesalahan gramatika maupun kesalahan yang berkenaan dengan konteks pemakaian mempengaruhi pandangan orang lain terhadap status sosial orang yang berbuat kesalahan berbahasa tersebut. Termasuk kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan konteks adalah kesalahan memilih ragam bahasa yang berkaitan dengan tingkat tutur yang terdapat dalam bahasa Jawa yang dikenal dengan istilah unggah ungguh. Kesalahan berbahasa dalam masyarakat Jawa dianggap sebagai noda. Oleh karena itu, dengan sadar setiap pemakai bahasa berusaha untuk memakai bahasa sesuai dengan kaidah gramatika serta ketepatan pemilihan ragam tingkat tutur sesuai dengan konteksnya. Dalam masyarakat Jawa, identifikasi seseorang antara lain dapat dilihat dari pemakaian bahasanya. Hal ini sesuai dengan tinjauan fungsi bahasa dari pandangan Sosiolinguistik.[5]
Dalam dunia pengajaran bahasa perhatian terhadap kesalahan berbahasa baru berkembang selama waktu yang relatif belum lama. Buku-buku pengajaran bahasa, terutama pengajaran bahasa Inggris, telah banyak disusun, tetapi hanya sedikit perhatian penulis terhadap kesalahan berbahasa. Walaupun perhatian terhadap kesalaahan berbahasa belum begitu banyak, tetapi pikiran-pikiran tentang kaitan antara kesalahan berbahasa dengan proses belajar bahasa dalam waktu yang relatif singkat telah banyak mengalami perkembangan. Perkembangan pemikiran yang berkenaan dengan hubungan antara kesalahan berbahasa dengan proses belajar bahasa tersebut sejalan dengan tumbuhnya pandangan baru dalam pengajaran bahasa pada umumnya.
Selama dasawarsa lima puluhan dan enam puluhan, pandangan pendekatan pengajaran bahasa, terutama pengajaran bahasa asing, yang berkembang pesat adalah pendekatan audiolingual (audiolingual approach). Pendekatan ini menekankan pentingnya latihan-latihan untuk menguasai bahasa yang dilaksanakan secara intensif. Dalam pelajaran bahasa, murid-murid dipaksa selama berjam-jam menghafalkan dialog, latihan-latihan menguasai pola serta, mempelajari semua generalisasi gramatika. Anggapan dasar yang menopang pentingnya diberikan latihan-latihan pola serta menghafalkan dialog tersebut dapat kita pahami dalam ungkapan yang erkenal, yaitu practice makes perfect (latihan praktik membuat sempurna) yang benar-benar diperhatikan oleh penganjur-penganjur pendekatan audiolingual. Makna dari ungkapan tersebut erat dengan pengajaran-pengajaran bahasa menurut pendekatan audiolingual sebagaimana yan dikemukan oleh Robert Lado dalam bukunya yang berjudul Language Teaching. Dikemukakan oleh Robert Lado 17 prinsip pengajaran bahasa. Salah satu prinsip itu adalah pentingnya latihan pola-pola, dan menghafalkan kalimat-kalimat percakapa dasar dalam model dialog-dialog. Dengan cara itu, kaidah-kaidah bahasa dalam berbagai pola akan menjelma menjadi kebiasaan dan kalimat-kalimat dalam berbagai dialog dapat digunakan sebagai model untuk pemakaian bahasa serta serta belajar  bahasa lebih lanjut.[6]
Para pengajur pendekatan audiolingual memandang kesalahan berbahasa dengan perspektif yang bersifat puritanistis. Nelson Brooks, misalnya, memandang kesalahan berbahasa sebagai dosa yang harus dihindari dan pegaruhnya harus dibatasi, tetapi kehadirannya tidak dapat dielakkan. Dikemukakannya pula metode untuk menghindari terjadi kesalahan dalam berbahasa adalah dengan melatihkan kepada si pembelajar model-model yang benar dalam waktu yang cukup lama. Untuk mengatasi kesalahan berbahasa, cara yang prinsipil adalah memperpendek jarak waktu antara respon yang tidak tepat (kesalahan berbahasa tersebut) dengan bentuk yang benar.
Pada akhir dasawarsa enam puluhan dan menginjak dasawarsa tujuh puluhan, dunia pengajaran bahasa megalami perkembangan pesat. Hal ini ditandai oleh timbulnya pandangan-pandangan yang baru terhadap proses penguasaan bahasa yang bersumber dari hasil studi ahli-ahli psikologi kognitif dan gramatika generatif transformasi. Pengajaran bahasa yang bersifat mekanistis dalam pendekatan audiolingual bergeser ke arah pengajaran bahasa yang lebih lebih manusiawi serta kurang mekanistis. Kegiatan berbahasa lebih ditekankan pada pembentukan kemampuan berkomunikasi daripada latihan-latihan pola dan hafalan dialog. Oleh karena itu, si pelajar lebih didorong keberaniannya untuk berkomunikasi dengan bahasa yang dipelajarinya. Sebagai pendukung, perlu diciptakan situasi yang memungkinkan  si pelajar bebas dari ketakutan berbuat salah.
Sehubungan dengan perkembangan yang terakkhir itu, pandangan terhadap kesalahan berbahasa juga mengalami perubahan. Kesalahan berbahasa tidak lagi dipandang sebagai dosa, tetapi sebagai hal yang wajar. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan pada proses penguasaan bahasa pertama pada anak-anak d mana pun juga. Dalam proses penguasaan bahasa pertama itu, anak-anak pasti membuat kesalahan berbahasa, teapi kesalahan tersebut diterima oleh orang tua mereka (orang dewasa di lingkungannya).
Aliran behaviorisme memandang kesalahan berbahasa sebagai suatu yang semata-mata harus dihindari dan diusahakan menghilangkan pengaruhnya. Pembelajar bahasa tidak boleh menggunakan kesalahan berbahasa. Apabila terjadi kesalahan berbahasa, kesalahan itu harus secepatnya diperbaiki agar tidak menjadi kebiasaan. Apabila suatu kesalahan berbahasa terlanjur menjadi kebiasaan, perbaikan kesalahan itu akan sangat sulit dilakukan.
Aliran psikologi kognitif memandang kesalahan  berbahasa sebagai suatu yang wajar. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan pada proses penguasaan bahasa pertama pada anak-anak di mana pun. Dala proses penguasaan bahasa pertama itu, anak-anak membuat kesalahan berbahasa, tetapi kesalahan berbahasa itu diterima oleh orang tua mereka serta orang dewasa di lingkungannya sebagai suatu yang wajara terjadi.
Kesalahan berbahasa dapat terjadi dalam setiap tataran linguistic (kebahasaan). Ada kesalahan yang terjadi dalam tataran dalam tataran fonologi, morfologi, sintaksis, wacana dan semantik. Kesalahan berbahasa dapat disebabkan oleh intervensi (tekanan) bahasa pertama ( (B1) terhadap bahasa kedua (B2). Kesalahan berbahasa yang paling umum terjadi akibat penyimpangan kaidah bahasa. Hal itu terjadi oleh perbedaan kaidah (struktur) bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2). Selain itu kesalahan itu terjadi oleh adanya transfer negative atau intervensi B1 pada B2. Dalam pengajaran bahasa, kesalahan berbahasa disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya: kurikulum, guru, pendekatan, pemilihan bahan ajar, serta cara pengajaran bahasa yang kurang tepat (Tarigan, 1997).
Burt, Dulay, maupun Krashen (1982) membedakan wilayah (taksinomi) kesalahan berbahasa menjadi kesalahan atau kekhilafan:
1.      Taksonomi kategori linguistic;
2.      Taksonomi kategori strategi performasi;
3.      Taksonomi kategori komparatif;
4.      Taksonomi kategori efek komunikasi.
Masyarakat Indonesia kebanyakan dwibahasawan dengan bahasa Daerah (BD) sebagai BI dan bahasa Indonesia (BI) sebagai B2. Penelitian kemampuan berdwibahasa terhadap anak-anak SD di DIY oleh Dr.Soepomo menunjukkan bahwa kemampuan ber-BI-nya masih lemah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kesalahan siswa dalam memakai BI. Sebab-sebab terjadinya kesalahan adalah (1) pengertian yang kacau, (2) interferensi, (3) karena logika yang belum masak, (4) karena analogi dan (5) sikap sembrono (Soepomo,1977).
Bertolak dari teori-teori dasar analisis bahasa antara melalui analisis kesilapan serta berbagai sebab terjadinya kesilapan, kiranya analisis kesilapan dapat diterapkan untuk meningkatkan keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Argumen-argumen yang dikemukakan di sini antara lain:
a.    Masyarakat Indonesia yang kebanyakan dwibahasawan dengan BI, BD memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk melakukan kesilapan ber-BI,
b.    Kemungkinan timbulnya kesulitan guru untuk menerapkan analisis kesilapan dalam pengajaran bahasa (BI) sangat kecil karena semua guru menguasai BI secara baik sedang seandainya guru tidak menguasai BI siswa tidak ada kesulitan untuk mendapatkan bantuan penutur asli,
c.    Siswa-siswa kebanyakan  bukan orang yang asing sama sekali dengan BI sehingga kemungkinan keberhasilannya jauh lebih besar.[7]
Sekolah-sekolah formal di Indonesia dengan sistem klasikal dengan rasio guru dengan siswa yang terlalu besar akan menimbulkan kendala di luar kebahasaan yang tidak dapat diabaikan. Guru biasanya telah mendapat beban mengajar secara maksimal (sekitar 18-24 jam per minggu) dan masih ditambah tugas-tugas administratif yang tidak dapat dihindarkan. Belum lagi pendapatan yang tidak memadai mendorong guru mencari tambahan jam mengajar  di luar tugas utamanya.
Di samping hal tersebut, penghargaan tugas guru tidak dihargai dari tetapi dihargai dari masa kerja serta ijazah yang dimiliki menyebabkan timbulnya rasa apatisme guru untuk bekerja secara optimal demi siswa.
Beban kurikulum yang terlalu banyak, target materi yang harus diselesaikan “memasung” kreatifitas guru untuk bereksperimen dengan berbagai metode, teknik dan pendekatan dalam pengajaran BI.
Betapapun demikian, guru yang bertanggung jawab terhadap tercapainya kemampuan ber-BI para siswa harus berusaha dengan berbagai strategi mengajar untuk tetap dapat menerapkan teori pengajaran yang dipandang paling efisien untuk mencapai tujuan.
Kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan, khususnya suatu bentuk yang tidak diinginkan.
Kesalahan Penggunaan Ejaan
1.Analisis Penulisan Kata Dasar dan Jadian
2. Analisis Penulisan Kata Depan
3. Analisis penulisan kata serapan dari bahasa Asing
Analisis Pemakaian Tanda Baca
1. Analisis pemakaian tanda baca titik (.)
2. Analisis Pemakaian Tanda Baca Koma (,)
3. Analisis Pemakaian Tanda Titik Koma
4. Analisis Pemakaian Tanda Titik Dua (:)
5.  Analisis Pemakaian Tanda Hubung
Penggunaan Ejaan Perlu dilihat kembali bahwa ejaan merupakan konvensi suatu bahasa. Oleh sebab itu, ejaan hanya berlaku untuk bahasa yang bersangkutan. Ejaan yang berlaku di Indonesia adalah EYD. Hal-hal yang berkaitan dengan kapan tanda baca itu digunakan dan bagaiman cara menggunakan dapat dibaca dalam buku EYD.
Contoh Kesalahan Berbahasa
A.    Huruf Kapital/Besar
B.    Penulisan Kata
C.    Tanda Baca
Contohnya : 1.  Amat percayakan anak bongsunya itu
C.      Sumber dan analisis kesalahan berbahasa
Penyimpangan bahasa yang dilakukan oleh penutur, terutama anak (siswa) dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa berdasarkan kategori taksonomi kesalahan atau kekeliruan bahasa  sudah dijelaskan diatas.
Apabila kesalahan dicari secara rinci, maka dapat didapat dari sumber-sumber ini:[8]
1.         Analisis kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi.
a.    Fonem /a/ diucapkan menjadi /e/.
b.    Fonem /i/ diucapkan menjadi /e/.
c.    Fonem /e/ diucapkan menjadi /e’/.
d.   Fonem /e’/ diucapkan menjadi /e/.
e.    Fonem /u/ diucapkan menjadi /o/.
f.     Fonem /o/ diucapkan menjadi /u/.
g.    Fonem /c/ diucapkan menjadi /se/.
h.    Fonem /f/ diucapkan menjadi /p/.
i.      Fonem /k/ diucapkan menjadi /?/ bunyi hambat global.
j.      Fonem /v/ diucapkan menjadi /p/.
k.    Fonem /z/ diucapkan menjadi /j/.
l.      Fonem /z/ diucapkan menjadi /s/.
m.  Fonem /kh/ diucapkan menjadi /k/.
n.    Fonem /u/ diucapkan atau dituliskan menjadi /w/.
o.    Fonem /e/ diucapkan menjadi/i/.
p.    Fonem /ai/ diucapkan menjadi  /e/.
q.    Fonem /sy/ diucapkan menjadi /s/.
r.     Kluster /sy/ diucapkan menjadi /s/.
s.     Penghilangan fonem /k/.
t.     Penyimpangan pemenggalan kata.
2.    Analisis kesalahan berbahasa dalam tataran morfoogi.
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran morologi :
a.    Salah penentuan bentuk asal.
b.    Fonem yang luluh tidak diluluhkan.
c.    Penyingkatan morfem men-, meny-, meng-, dan menge- menjadi n, ny, ng, dan nge-.
d.   Perubahan morfem ber-, per-, dan ter- menjadi be-, pe- dan te-.
e.    Penulisan morfem yang salah.
f.     Pengulangan yang salah.
g.    Penulisan majemk serangkai
h.    Pemajemukan berafikasi.
i.      Pemajemukan dengan afiks dan sufiks
j.      Perulangan kata mejemuk.
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran frase, antara lain:
a.    Frase kata depan tidak tepat.
b.    Salah penyusunan  frase.
c.    Penambahan kata “yang” dalam frase benda (nominal) (N+A).
d.   Penambahan kata “dari” atau “pada” dalam frase verbal (V+Pr).
e.    Penambahan kata “untuk” dan “yang” dalam frase nominal (N+V).
f.     Penambahan kata “untuk” dalam frase nominal (V+yang+ Vpasif)
g.    Penghilangan preposisi  dalam frase verbal (Vintransitif+preposisi+N).
h.    Penghilangan kata “oleh” dalam frase verbal pasif (Vpasif+oleh+A)
i.      Penghilangan kata “yang” dalam frase adjektif (lebih+A+daripada+N/DEM).
Sumber kesalahan dalam tataran klausa, antara lain:
a.    Penambahan preposisi diantara kata kerja dan objek dalam klausa aktif.
b.    Penambahan kata kerja bantu “adalah” dalamklausa pasif.
c.    Pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa pasif.
d.   Penghilangan kata “oleh” dalam klausa pasif.
e.    Penghilangan preposisi dari kata kerja berpreposisi dalam klausa pernyataan.
f.     Penghilangan kata “yang” dalam klausa nominal.
g.    Penghilangan kata kerja dalam klausa intransitif.
h.    Penghilangan kata “untuk” dalam klausa pasif.
i.      Penggantian kata “daripada” dengan kata “dari” dalam klausa bebas.
j.      Pemisahan kata kerja dalamklausa medial.
k.    Penggunaan klausa rancu.
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran sintaksis,antara lain:
a.       Penggunaan kata perangkai, dari, pada, daripada, kepada dan untuk.
b.      Pembentukan kalimat tidak baku, antara lain:
1.)    Kalimat tidak efektif.
2.)    Kalimat tidak normatif.
3.)    Kalimat tidak logis.
4.)    Kalimat rancu.
5.)    Kalimat ambigu.
6.)    Kalimat pengaruh struktur bahasa asing.
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran semantic, antara lain:
a.       Akibat gejala hiperkorek.
b.      Akibat gejala pleonasme.
c.       Akibat bentukan ambiguitas.
d.      Akibat diksi (pemilihan kata).
Sumber kesalahan berbahasa dalam tataran wacana, antara lain:
a.       Akibat syarat-syarat paragraph tidak dipenuhi.
b.      Akibat struktur paragraf.
c.       Akibat penggabungan paragraf.
d.      Akibat penggunaan bahasa dalam paragraf.
e.       Akibat pengorganisasian isi (topik-topik) dalam paragraf.
f.       Akibat pemilihan topik (isi) paragraf yang tidak tepat.
g.      Akibat ketidakcermatan dalam perujukan.
h.      Akibat penggunaan kalimat dalam paragraf yang tidak selesai.
Analisis bahasa ini bertujuan untuk mengetahui  kesalahan dalam berbahasa dalam bentuk-bentuk yang sudah disebutkan diatas. Kemudian setelah tau kesalahan-kesalahan tersebut dapat diperbaiki.

D.  Metodelogi  Analisis Kesalahan Berbahasa
Untuk menganalisis kesalahan berbahasa dapat menggunakan taksonomi kategori strategi performasi, taksonomi strategi kategori komparatif, dan lain-lain.
Contoh:  Nur Susilo Mas’ud melakukan penelitian kekhilafan (kekeliruan berbahasa) dalam pemerolehan konstruksi kalimat bahasa indonesia. Penelitian itu dilaksanakan kepada siswa yang berusia delapan tahun dengan kemampuan bahasa pertama (B1) jawa dan lokasi penelitian itu diperoleh empat wujd kekhilafan berdasarkan taksonomi kategori strategi performasi, yaitu: [9]
1.    Penanggalan (omission)
2.    Penambahan (addition)
3.    Kesalahbentukan (misformation)
4.    Kesalahurutan (misordering)
Berdasarkan kategori linguistik ditemukan 20 tataran kekhilafan,yaitu:
1.    Penanggalan S, P,O, Ber-,meN-, di-,ter-, ke-, dan kata ganti bilangan.
2.    Penambahan : subjek pronomina, penggunaan adverbia rangkap, enklitiknya.
3.    Kesalahbentukan: di,ke, penggunaan kata sendiri,enklitiknya.
4.    Kesalahurutan : penggunaan urutan pokok keterangan.
Berdasarkan kategori komparatif, ditemukan dua tataran kekhilafan yaitu:
1.    Kekhilafan interlingual.
2.    Kekhilafan intralingual.
Berdasarkan kategori kekhilafan, ditemukan bahwa strategi pemerolehan konstruksi kalimat bahasa indonesia pada siswa berusia delapan tahun yang berbahsa pertama (B1) bahasa jawa adalah:
1.    Menaggalkan unsur-unsur linguistik yang diperlukan dalam bahasa indonesia.
2.    Menambahkan unsur-unsur linguistik yang tidak diperlukan dalam bahasa indonesia.
3.    Menyusun unsur-unsur linguistik diluar kaidah bahasa indonesia.
4.    Mengurutkan unsur-unsur linguistik di luar kaidah bahasa indonesia.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sujai tentang pemakaian bahasa indonesia di lingkungan masyarakat Tionghoa Jawa Timur,ditemukan lima tipe kesalahan atau kekhilafan berbahasa indonesia. Penelitian itu merupakan sebuah analisis kesalahan bahasa indonesia ragamtulis siswa kelas VI SD warga keturunan Cina (Tionghoa) di tiga kota Jawa Timur.
Kelima tipe kesalahan tersebut adalah :
1.    Tipe A: kesalahan atau kekhilafan generalisasi berlebih dalam penulisan bahasa Indonesia.
2.    Tipe B: kekhilafan pengetahuan (ketidakmampuan) menaati kaidah kebahasaan.
3.    Tipe C: kekhilafan pada penafsiran terhadap kaidah bahasa yang diperoleh.
4.    Tipe D: kekhilafan pada penggunaan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar.
5.    Tipe E: kekhilafan akibat interferensi bahasa pertama (B1) pada bahasa indonesia.
Dari kelima tataran kekhilafan tersebut,tipe A menempati peringkat pertama untuk tataran morfologi, tipe B menempati peringkat pertama untuk tataran sintaksis, adapun tipe E menempati peringkat paling rendah baik pada kekhilafan tataran morfologis maupun kekhilafan tataran sintaksis. Dari temuan itu disimpulkan bahwa tipe kekhilafan A, B, C, dan D merupakan kekhilafan akibat intralingual (kekhilafan perkembangan) sedangkan tipe E merupakan kekhilafan akibat interlingual (kekhilafan inferensial).


[1] Pranowo. Analisis Pengajaran Bahasa(Yogyakarta: Gajhah Mada University Press, 1996), 3
[2] Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa(Bandung: Angkasa, 1988), 7
[3] Dian Indihadi, Analisis Kesalahan Berbahasa (PDF), diakses pada tanggal 20 April 2013
[4] Samsuri, Analis Bahasa(Jakarta : Erlangga, 1985), 22
[5] Wojowasito, Pengajaran Bahasa Kedua (Bahasa Asing, Bukan Bahasa  Ibu(Bandung: Shinta Dharma, 1977), 42
[6] Broto A. S. Pengajaran Bahasa Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
[7] Zaenal Arifin. Cermat BerbahasaIndonesia Untuk Perguruan Tinggi(Jakarta: AkademikaPrescindo, 2000), 55
[8] Dian Indihadi, Analisis Kesalahan Berbahasa (PDF), diakses pada tanggal 20 April 2013
[9] Samsuri, Analisis Bahasa, memahami bahasa secara ilmiah (Jakarta: Erlangga, 2009), h.79
Share this article :

Post a Comment

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger