English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Kumpulan Hadits
News Update :
Home » » SEJARAH PERKEMBANGAN MADRASAH

SEJARAH PERKEMBANGAN MADRASAH

Penulis : azid zainuri on Wednesday, February 27, 2013 | 11:08 PM



SEJARAH PERKEMBANGAN MADRASAH
Sebagai umat Muslim, tentu kita tidak asing dengan lembaga yang bernama Madrasah. Yakni lembaga pendidikan bersasis agama Islam yang telah lama berdiri dalam lingkungan masyarakat. Islam pada awal perkembangannya sudah mempunyai lembaga pendidikan  dan  pengajaran. Lembaga pendidikan dan pengajaran  pada saat itu dinamakan kuttab, disamping masjid, rumah, istana, dan  perpustakaan. Kuttab adalah suatu lembaga pengajaran yang  khusus sebagai tempat belajar membaca dan menulis. Pada mulanya guru-guru kuttab tersebut adalah orang-orang non muslim, terutama orang-orang Kristen dan Yahudi. Oleh karenanya pada awal Islam kuttab dijadikan tempat belajar membaca dan menulis saja, sedangkan pengajaran al-Qur·an dan dasar-dasar agama diberikan di masjid oleh guru-guru khusus.
Kemudian untuk kepentingan pengajaran menulis dan  membaca bagi anak-anak, yang sekaligus juga memberikan  pelajaran al-Qur·an  dan dasar-dasar agama, diselenggarakan kuttab-kuttab yang terpisah dari masjid.

Dalam perkembangan selanjutnya, kuttab tersebut dijadikan sebagai pendidikan tingkat dasar, sedang Masjid dalam bentuk  halaqah yang memberikan pendidikan dan pengajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan, merupakan pendidikan tingkat lanjutan. Pendidikan di Masjid ini, biasanya  hanya untuk orang-orang dewasa dengan sistem halaqah (lingkaran). Dari situlah muncul ulama-ulama besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan agama Islam, dan dari situ pula muncul mazhab-mazhab dalam  berbagai bidang disiplin ilmu yang pada masa itu disebut madrasah. Dalam arti etimologis yaitu aliran atau jalan pemikiran. Untuk menampung kegiatan halaqah yang semakin marak sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajar dan berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang maka dibangun ruang-ruang khusus untuk kegiatan halaqah tersebut di sekitar masjid dan dibangun pula tempat-tampat khusus untuk para guru dan pelajar sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar yang disebut dengan nama Zawiyah atau Ribath. Pada dasarnya timbulnya madarasah di dunia Islam merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan zawiyah-zawiyah tersebut guna menampung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar secara kuantitas semakin membengkak.[1]
Kata Madrasah dalam bahasa Arab adalah bentuk kata "keterangan tempat (zaraf makan) dari kata "darasa" secara harfiyah "madrasah" diartikan sebagai "tempat belajar para pelajar" atau "tempat untuk memberikan pelajaran".[2] Dari akar kata "darasa" juga bisa diturunkan kata "midras" yang mempunyai arti “buku yang dipelajari" atau "tempat belajar" kata al-midras juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari kitab Taurat".

Kata "madrasah" juga ditemukan dalam bahasa Hebrew atau Aramy, dari akar kata yang sama yaitu "darasa" yang berarti “membaca dan belajar" atau "tempat duduk untuk belajar". Dari kedua bahasa tersebut kata "Madrasah" mempunyai arti yang sama "tempat belajar" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata " Madrasah" memiliki arti "sekolah" kendati pada mulanya kata "sekolah" itu sendiri bukan dari bahasa Indonesia, melainkan dari kata asing yaitu school atau scola.[3]
Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar mengajarnya secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi yakni "sekolah agama” tempat dimana anak-anak dididik memperoleh pembelajaran hal ikhwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).
Sejarah Munculnya Madrasah
Madrasah sebagai lembaga pendidikan dalam bentuk pendidikan formal sudah dikenal sejak awal abad ke-11 atau 12 M, atau abad ke-5-6 H, yaitu sejak dikenal adanya Madrasah Nidzamiyah yang didirikan di Baghdad oleh Nizam Al-Mulk, seorang wazir dari Dinasti Saljuk. Pendirian madrasah ini telah memperkaya khasanah lembaga pendidikan di lingkungan masyarakat Islam, karena pada masa sebelumnya msyarakat islam hanya mengenal pendidikan tradisional yang diselenggarakan di masjid-masjid dan dar al-khuttab. Di Timur Tengah institusi madrasah berkembang untuk menyelenggarakan pendidikan keislaman tingkat lanjut (advance/tinggi), yaitu melayani mereka yang masih haus ilmu sesudah sekian lama menimbanya dengan belajar di masjid-masjid atau dar al-khuttab. Dengan demikian, pertumbuhan perkembangan lanjut dan alamiah dari dinamika internal yang tumbuh dari dalam masyarakat islam sendiri.[4]

Adapun para ahli sejarah berbeda pendapat tentang awal munculnya madrasah sebagai lembaga pendidikan islam seperti sekarang. Hasan Ibrahim Hasan berpendapat bahwa: Madrasah belum berdiri sebelum abad ke 4 hijriyah (sebelum 10 masehi). Madrasah yang pertama al-Baihaqiyah di Naisapur. Al-Maqrizi juga mengemukakan hal yang sama, bahwa madrasah yang mula-mula berdiri adalah al-Baihaqiyah di Naisapur, oleh Hasan al-Baihaqi yang wafat pada 414 H.

Hasil penelitian Richard Buliet tahun 1972, mengungkapkan, selama 2 abad sebelum madrasah Nizhamiyah di Baghdad sudah berdiri madrasah di Naisapur sebanyak 39 madrasah dengan madrasah tertua Miyan dahiya yang mengkhususkan pada pengajaran Fiqih Maliki.

Naji Ma'ruf (1966:9) mengatakan bahwa 1965 tahun sebelum Madrasah Nizhamiyah, sudah ada madrasah di Transoksania dan Khurasan. Sebagai bukti, ia megemukakan data dari Tarikh al-Bukhori yang menjelaskan bahwa Ismail ibn Asad yang wafat pada tahun 295H mempunyai madrsah yang dikunjungi oleh para pelajar untuk melanjutkan pelajaran mereka. Madrasah Naisapur pada masa awalnya didirikan oleh ulama fiqih dengan tujuan utama mengembangkan ajaran mazdhabnya. Pada umumnya madrasah tersebut mengajarkan satu madhab fikih saja dan sebagian besar madhab syafiii. Dari 39 madrasah yang dikemukakan oleh Buliet, hanya satu madrasah yang mengajarkan Fiqih maliki, empat madrasah yang mengajarkan Fiqih Maliki, empat madrasah mengajarkan fiqih Hanafi dan yang lain mengajarkan fiqih syafii.

Madrasah juga pernah muncul pada masa Khalifah Abbasyiyah Harun al-Rasyid yang disebut dengan "Madrasah Baghdad" akan tetapi belum popular pada saat itu karena mengalami kemandekkan. Madrasah pertama di dunia Islam dan popular adalah Madrasah Baihaqiyah di Naisapur pada abad ke-3 Hijriyah, sedangkan menurut penelitian Bulliet (1972) madrasah tertua adalah Miyan Dahiya di Naisapur juga pada abad ke-3 H sedangkan Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah terbesar pertama di dunia Islam.

Namun demikian tidak mengecilkan arti penting Nizham al-Mulk yang telah berjasa membesarkan nama lembaga pendidikan madrasah. Ia memang bukan orang yang pertama membangun madrasah, tetapi dilihat dari skala usahanya, ia adalah orang yang pertama membangun jaringan lembaga pendidikan yang besar dengan nama madrasah. Ahmad Syalabi mengatakan, 'dalam hal ini, tak seorangpun yang mendahului Nizham al-Mulk. Kalaupun dalam sejarah kemudian nama Nizham al-Mulk lebih terkenal, karena biasanya dalam penulisan sejarah orang sering menunggu fenomena besar, tanpa melihat peristiwa-peristiwa sejarah sebelumnya.

Berikut madrasah yang pernah tumbuh dan berkembang di masa klasik Islam antara lain:[5]
a.         Madrasah-madrasah di Naisapur  (abad ke-4 dibawah dinasti Samaniyah (204-395H . 819-1005M)
b.        Madrasah Nizhamiyah (485 H / 1092 M) pada masa dinasti Saljuk (Nizham al-Mulk)
c.         Madrasah Imam Abu Hanifah Baghdad, (abad ke-5 H/ 11 M)
d.        Madrasah al-Musthansiriyah Baghdad, ( Pendirinya Khalifah Abbassyiyah ke 36, Al-mustansyir (623-640 /1226-1242)
e.         Madrasah Al-Mansyuriyah Kairo, Pendirinya Dinasti Mamalik, Al Mansur Qalawun (678-689H / 1280-1290M)
f.         Madrasah Granada (al-Nashriyah) di Andalusia, Zaman Abu Abdillah Muhammad ibn Muhammad ibn Yusuf tahun 750 H / 1349, di Andalusia
g.        Madrasash Malaga, cordova, didirikan oleh Muhammad bin Muhammad al-Thanjali (733 H / 332 M)
h.        Madrasah Khusus.
Perkembangan Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan
Dilihat dari perkembangan lembaga-lembaga pendidikan dalam Islam, dapat disimpulkan bahwa madrasah adalah  hasil evolusi dari masjid sebagai lembaga pendidikan, sebelum berpindahnya lembaga pendidikan Islam dari masjid ke Madrasah, sebenarnya masjid sendiri secara fisik telah mengalami evolusi. Lamanya pendidikan di dalam masjid menuntut tersedianya tempat permanent bagi siswa yang datang dari jauh, kebutuhan ini dijawab dengan pengenalan khan (asrama) disamping masjid yang dipelopori oleh Badr bin Hasanawyh. Maka dalam hal ini madrasah merupakan perkembangan berikutnya dari masjid dan masjid berasrama (masjid khan). George Makdisi menekankan bahwa masjid khan yang kemudian tumbuh  menjadi madrasah adalah masjid khan tempat dimana fiqih merupakan bidang studi utamanya, ini sesuai dengan pandangan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan hukum (college of law).
Sebagaimana dijelaskan Hasan Asari, Nakosteen menulis: "Pendidikan yang tersedia di maktab, sekolah istana, dan masjid mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang sangat jelas berdasarkan tujuan pendidikan, kurikulum sangat terbatas, lembaga-lembaga ini tidak berhasil memikat guru-guru terbaik, fasilitas-fasilitasnya tidak menawarkan lingkungan pendidikan yang kondusif, konflik antara tujuan-tujuan kependidikan dengan tujuan-tujuan keagamaan di masjid hampir tidak bisa didamaikan lagi. Pendidikan menuntut keaktifan (dan menimbulkan kebisingan) yang mengganggu kehidmatan peribadatan, karena itu menjadi penting untuk mengurangi sebanyak mungkin tanggungjawab masjid yang berkaitan dengan pendidikan. Pendirian sebuah tipe lembaga pendidikan yang baru yakni madrasah, adalah alamiyah dan perlu. Sebuah faktor ekternal yang juga berperan dalam pengembangan konsep baru ini adalah kenyataan bahwa kemajuan dan penyebaran pengetahuan melahirkan kelompok orang yang kesulitan membangun kehidupan yang layak dengan pengetahuan abstrak mereka, memajukan pendidikan dan menyediakan penghasilan kelompok ini adalah bagian dari alasan didirikannya madrasah-madrasah."
Dari kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya istilah pengajaran di madrasah yaitu: Pertama Halaqoh-halaqoh (lingkaran belajar) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang didalamnya terjadi berbagai diskusi dan perdebatan, sering mengganggu orang-orang yang beribadah di masjid. Karena itu ada upaya untuk segera memindahkan halaqoh-halaqoh tersebut keluar masjid. Didirikanlah ruangan-ruangan dan kelas-kelas sehingga tidak mengganggu kegiatan ibadah. Lama kemudian muncul keinginan untuk benar-benar memisahkan lembaga pendidikan islam itu dari msjid kebangunan tersendiri yang lebih permanen, dari situlah muncul madrasah.
Kedua dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan, baik agama maupun pengetahuan umum (waktu itu dikenal dengan sebutan al-ulum al-aqliyah, ilmu-ilmu rasional), maka makin banyak diperlukan ruangan dan kelas untuk mengajarkan dan menampung para murid yang kian hari kian bertambah. Masjid tidak bias mengakomodasikan kebutuhan tersebut. Apalagi mulai berkembangnya pendapat bahwa pengetahuan umum sebaiknya tidak diajarkan di dalam msjid. Karena itu madrasah menjadi pilihan yang dianggap cukup memadai untuk menampung kebutuhan tersebut.
Ketiga pada abad ke-4 H. syiah telah tumbuh menjadi faham dan gerakan keagamaan yang kuat yang berkembang di hamper seluruh dunia Islam. Syiah tidak hanya menjadi gerakan politik tetapi juga gerakan ilmu pengetahuan yang secara aktif dan sistematis menyebarkan ide-idenya melalui lembaga-lembaga pendidikan, keadaan ini sangat menantang kaum muslimin dari kalangan sunni, karena itu mereka mendirikan madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan  yang oleh para ulama fiqih kemudian digunakan untuk mengembangkan sekaligus mempertahankan faham ahlusunnah.
Keempat pada masa bangsa Turki Seljuk melulai berpengaruh dalam pemerintahan bani abbasyiah (1055-1194) dan mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin. Dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum, mereka juga berusaha mendirikan madrasah-madrasah ini di berbagai tempat dan dengan dilengkapi sarana dan fasilitas yang diperlukan. Guru-guru digaji secara khusus untuk mengajar dimadrasah-madrasah yang mereka dirikan.
Kelima mereka mendirikan madrasah-madrasah dengan harapan mendapatkan simpati rakyat umum disamping ampunan dan pahala dari Allah SWT.
Dan keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia, menurut para ahli pendidikan, khususnya dalam bidang sejarah pendidikan Islam, seperti Azyumardi Azra, Maksum, Hasbullah, Steenbrink, Nakosteen, dan lain-lain, sebenarnya bukan merupakan satu mata rantai sejarah tumbuh dan berkembangnya madrasah di masa Islam Klasik. Tetapi madrasah di Indonesia muncul sebagai kelanjutan logis lembaga pendidikan Islam sebelumnya, khususnya Jawa, yaitu pesantren. Pandangan ini, diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa masuknya Islam ke Nusantara, baik gelombang pertama (abad ke-7 M) maupun gelombang kedua (abad ke-13 M) tidak diikuti oleh muncul atau berdirinya madrasah. Dengan alasan itu pula, maka secara historis menurut Nurcholish Madjid, pesantren seringkali disebut tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).
Dengan demikian, pertumbuhan madrasah di Indonesia dianggap sebagai memiliki latar belakang sejarahnya sendiri, bukan madrasah dalam tradisi pendidikan Islam masa klasik (abad ke -11-12 M) seperti di Timur Tengah; tetapi sangat dimungkinkan ia merupakan konsekuensi logis dari pengaruh intensif pembaruan pendidikan Islam di Timur Tengah (dan dunia Islam) pada masa modern atau sekitar awal abad ke-20 M. Dari perjalanan kelembagaan pendidikan Islam tersebut, berangsur-angsur madrasah mengalami modernisasi sistem pendidikan, terutama pola pembelajarannya yang dikelola dengan sistem “madrasi”,yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan “madrasah”.[6]
Karena itu sejak kemunculannya madrasah di Indonesia sudah mengadopsi sistem sekolah modern dengan ciri-ciri digunakannya sistem kelas, pengelompokan pelajaran, penggunaan bangku, dan dimasukkan pengetahuan umum sebagai bagian dari kurikulumnya. Sebagai kelanjutannya, lembaga pendidikan Madrasah ini secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Kemudian, sejak awal pertumbuhannya orientasi madrasah dijatuhkan pada pilihan-pilihan sebagai berikut; (1) madrasah sebagai lembaga pendidikan yang semata-mata untuk mendalami agama (tafaqquh fī al-dīn), yang biasa disebut sebagai madrasah diniyah salafiyah; dan (2) madrasah yang didirikan tidak hanya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam, tetapi juga memasukkan pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Dilihat dari segi karateristiknya, pada dasarnya madrasah di Indonesia bersifat populis (merakyat). Menurut Steenbrink, misalnya, segi populis karakteristiknya adalah karena madrasah di Indonesia pada umumnya tumbuh dan berkembang atas inisiatif tokoh masyarakat yang peduli, terutama para ulama yang membawa gagasan pembaruan pendidikan, setelah mereka kembali dari menuntut ilmu di Timur Tengah. Selain itu, dana pembangunan dan pendidikan berasal dari swadaya masyarakat.
Berbeda dengan madrasah pada masa Islam klasik, dimana madrasah pada masa tersebut terlahir sebagai gejala urban atau kota, dengan inisiatif yang datang dari penguasa. Sebagai akibatnya, praktis madrasah tidak kesulitan menyerap hampir segenap unsur dan fasilitas modern, seperti bangunan yang permanen, kurikulum yang tertata rapi, pergantian jenjang pendidikan, dan anggaran dana yang relatif lancar karena langsung dikucurkan oleh pemerintah.
Selain itu, sebagaimana diterangkan di muka bahwa secara teknis madrasah mempunyai kesamaan dengan sekolah, tetapi dilihat dari karakteristiknya sebenarnya ada perbedaan; madrasah sangat menonjolkan nilai religius masyarakatnya, sementara sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan Barat.
Istilah madrasah dalam berbagai penggunaannya sebenarnya mempunyai banyak pengertian dan ruang lingkup. Namun yang perlu digarisbawahi adalah madrasah dalam pengertian sebagaimana sistem perundang-undangan kita yang terdapat dalam keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang madrasah, yaitu bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, di mana mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.
Pengertian dan karakteristik madrasah di Indonesia sebagaimana diterangkan di muka membawa konsekuensi untuk dirumuskan secara benar dan tepat mengenai visi, misi dan pengembangannya (tujuan) madrasah. Tentunya, untuk merumuskan semua itu harus mempertimbangkan nilai-nilai normatif, religius, dan filosofis yang diyakini kebenarannya; melihat kondisi obyektif di mana pendidikan madrasah diselenggarakan; dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan atas berbagai isu strategis yang dihadapi bangsa Indonesia, sekarang dan mendatang.
Mencermati hal tesebut, maka visi pendidikan madrasah memuat dua spektrum, satu sisi visi yang bersifat mikro dan di sisi lain bersifat makro. Secara mikro, visi pendidikan madrasah adalah “terwujudnya masyarakat dan bangsa Indonesia yang memiliki sikap agamis, berkemampuan ilmiah-amaliah, terampil dan profesional”. Sedangkan visi makro madrasah adalah “terwujudnya individu yang memiliki sikap agamis, berkemampuan ilmiah-diniyah, terampil dan profesional, sesuai dengan tatanan kehidupan” Sedangkan sebagai bentuk operasionalisasi dari visi madrasah, maka haruslah dirumuskan misi yang sepadan. Mengenai misi pendidikan madrasah, adalah “menciptakan calon agamawan yang berilmu; menciptakan calon ilmuwan yang beragama; dan menciptakan calon tenaga terampil yang profesional dan agamis”.
Berangkat dari visi dan misi pendidikan madrasah sebagaimana di atas, maka dapatlah diformulasikan bahwa arah pengembangan pendidikan madrasah pada hakikatnya bertujuan untuk dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, berkepribadian, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[7]
Sistem Pendidikan dan Pembelajaran di Madrasah
Secara historis, pada tahap-tahap awal pembelajaran madrasah tidaklah begitu mulus, kendatipun didirikan dengan nama madrasah, semula yang dikehendaki ialah suatu lembaga pendidikan dengan sistem klasikal, yang didalamnya anak didik mendapatkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara berimbang. Tetapi pada prakteknya, hanya dicerminkan oleh sistem klasikalnya saja, sementara kurikulum yang diajarkan tetap semata-mata bidang studi agama. Karena itu banyak madrasah pada tahap-tahap awal ini tidak bedanya dengan pesantren tradisional yang sudah lama berjalan.[8]
Dari kenyataan-kenyataan tersebut, maka oleh Departemen Agama diadakanlah upaya-upaya untuk peningkatan kualitas madrasah, yang salah satu aspeknya adalah kurikulum. Untuk masalah kurukulum ini, dalam perkembangannya telah beberapa kali diadakan perubahan,dari muatannya lebih banyak pengetahuan agama ketimbang pengetahuan umum sampai dengan diberakukannya kurikulum 1994 seperti sekarang ini, yang memuat lebih kurang 10% pendidikan agama dan 90% pengetahuan umum.
Sistem pendidikan dan pengajaran yang digunakan pada madrasah merupakan perpaduan antara sistem pondok pesantren denagn sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, mulai dari mengikuti sistem klasikal. Sistem pengajian kitab, diganti dengan bidang-bidang pelajran tertentu,walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama. Kenaikan tingkat ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang pelajaran tertentu.
Dalam perkembangannya, kurikulum pada madrasah dari waktu kewaktu senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan kemajuan zaman. Semua ini dilakukan adalah dengan tujuan peningkatan kualitas madrasah, agar keberadaanya tidak diragukan dan sejajar dengan sekolah-sekolah lainnya.
Usaha tersebut mulai terealisasi,terutama dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersma (SKB) 3 Menteri,antara Menteri Dalam Negeri,Menteri Agama dan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1975,tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah.
Berdasarkan SKB 3 Menteri tersebut, yang dimaksud dengan madrasah ialah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran dasar, yang diberikan sekurang-kurangnya 30% disamping mata pelajran umum. Madrasah dalam hal ini memiliki 3 jenjang atau tingkatan,yaitu ibtidaiyah,tsanawiyah dan aliyah yang masing-masing sejajar dengan SD,SMP dan SMA.
Untuk merealisasikan SKB 3 Menteri itu, maka pada tahun 1976 Departemen Agama mengeluarkan kurukulum sebagai standar untuk dijadikan accuan oleh madrasah.Kurikulum yang dikeluarkan, juga dilengkapi dengan hal-hal sebagai berikut:
1.      Pedoman dan aturan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pada madrasah,sesuai dengan aturan yang berlaku pada sekolah-sekolah umum.
2.      Deskripsi berbagai kegiatan dan metode penyampaian progam untuk setiap bidang studi,baik untuk bidang studi agama,maupun bidang studi pengetahuan.
Dengan adanya SKB 3 Menteri tersebut,bukan berarti beban yang dipikul madrasah tambah ringan,akan tetapi justru sebaliknya.Hal ini dikarenakan,disatu pihak ia dituntut untuk mampu memperbaiki kualitas pendidikan umum sehingga setaraf dengan standar yang berlaku disekolah umum,dilain pihak ia harus menjaga agar mutu pendidikan agama tetap baik sebagai ciri khasnya.Maka untuk mencapai kedua tujuan dimaksud, sudah barang tentu harus diadakan peninjauan kembali terhadap kurikulum yang berlaku,materi pelajaran,sistem evaluasi dan peningkatan mutu tenaga pengajaran melalui penataran-penataran.[9]


[1] Amin Rais, at. al, Sosial Issues in Shout heast Asia, kompilasi hasil Workshop, editor : Sharom Ahmad dan Sharon Shoddque , Institute of Shoutheast Asian Studies, 1987, hal. 7-25
[2] A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Islam, (Jakarta : LP3NI, 1998), 116.
[3] Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), cet.9, 56.
[4] Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan pendidikan Anak Bangsa, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), 11-12.
[5] http://makalahmeza/24-09-12/spi-madrasah/madrasah-pada-masa-klasik.html
[6] Ainurrafiq Dawam dan Ahmad Ta’arifin, Manajemen Madrasah Berbasis Pesantren, (Listafariska Putra, 2005), 34.
[7] http://spi-madrasah/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan.html
[8] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), 70.
[9] Ibid., 76.
Share this article :

Post a Comment

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger